Hujan dimalam itu tidak dapat aku lupakan. Entah kenapa masih ada saja bayang-bayang yang masih menetes di memori ku. Terkadang ingin aku lupakan semua yang pernah aku lakukkan seperti ombak yang menghapus jejakmu di pantai. Lama kita tak berjumpa bagi ku itu lebih baik agar waktu bisa berjalan dengan normal. Tulisanmu di kertas itu sudah ku bakar seperti sebuah kebakaran rumah yang besar karena sebuah amarah yang membumbung tinggi di angkasa. Sesungguhnya alangkah baiknya kalau saja aku tidak mengingatmu lagi agar malaikat yang ada bersamaku tidak merasa sakit karena sayapnya terkena percikan api. Aku sadar memang tidak mudah untuk melupakan luka yang tersayat oleh benda tajam. Dalam kesunyian dan kesepian pasti saja aku memikirkan hal yang mungkin sebuah teka teki KuasaNya. Tetesan air yang datang selalu membuat perasaanku seperti tersayat tetapi selalu ku ingat bahwa buah yang berwarna merah tidak selamanya manis. Malaikatku selalu berbisik agar menjauh dan melepaskan ikatan itu. Aku yang hanya seorang manusia yang lemah ingin sekali melepaskannya tetapi semua seperti samudra yang menghantam karang yang berdiri kokoh di tepi Pantai. Semua seperti sebuah dongeng untuk anak-anak tk yang sering aku dongengkan. Sungguh berdarah - darah aku bertarung dan tetap saja kalah. Pertarungan itu sangatlah berat aku kalah telak dengan Pangeran tampan itu. Sekarang aku mengerti betapa bersinarnya bintang itu saat masih di angkasa tetapi saat aku melihatnya kini terlihat mendung seperti tertutup awan hitam. Pikirku, apakah bintang itu tidak bahagia? ah, itu hanya pikir ku. terlihat di kejauhan bintang itu bersanding dengan komet. Aku yang hanya anak akar yang hanya bisa mencakram tanah tetapi tidak bisa mencengkram langit tidak akan mungkin mendapatkan keindahan yang ada di angkasa. Malaikatku hanya kamu yang bisa menerangiku karena malaikat terbentuk dari cahaya bukan dari berlian maupun emas. kamu yang selalu menggenggam harapanku keras tanpa ada penyesalan. Mendampingiku berlari ke jalan yang lurus meskipun aku lelah engkau selalu menyemangatiku dan memberikan air kehidupan yang murni. Terima Kasih Malaikatku.
Jumat, 21 November 2014
Rabu, 19 November 2014
JADWAL BINA BACA PERPUSTAKAAN SEKOLAH HATI SUCI
JADWAL BINA BACA
PERPUSTAKAAN
SEKOLAH HATI SUCI
Tahun Ajaran
2014/2015
|
WAKTU
|
SENIN
|
SELASA
|
RABU
|
KAMIS
|
JUMAT
|
|
07.30-08.00
|
SD KLS VII B
|
SMA KLS XII
|
|
TK B
|
SMP KLS VIII A
|
|
08.00-08.30
|
|
|
SMP KLS VII A
|
TK A
|
|
|
08.30-09.00
|
|
|
|
KB
|
|
|
09.00-09.30
|
|
SD KLS 1
|
SD KLS III
|
|
|
|
09.30-10.00
|
SD KLS VI
|
SD KLS IV
|
|
SMA KLS XI
|
|
|
10.00-10.30
|
|
|
SMP KLS VIII B
|
|
|
|
10.30-11.00
|
|
|
|
|
|
|
11.00-11.30
|
SD KLS II
|
SD KLS V
|
|
|
|
|
11.30-12.00
|
|
|
|
|
ISTIRAHAT
|
|
12.00-13.00
|
ISTIRAHAT
|
ISTIRAHAT
|
ISTIRAHAT
|
ISTIRAHAT
|
|
|
13.00-13.30
|
|
|
|
|
|
|
13.30-14.00
|
|
|
|
SMA KLS X
|
|
|
14.00-15.00
|
|
|
|
|
|
Kamis, 13 November 2014
FABEL: Pohon Apel
Pohon Apel
Pengarang: Anonim
|
Suatu ketika, hiduplah sebatang
pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel
itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu
sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai
anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki
itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu
setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi
denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia
lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka
cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang
lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi,”
kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak
lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
“Ayo bermain-main lagi deganku,”
kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang
lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf anakku,” kata pohon apel
itu.
“Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di
pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan
tersenyum sambil meneteskan air matanya.
|
FABEL: Pohon Apel yang Tulus Hati
Pohon Apel yang Tulus Hati
Pengarang: Anonim
|
Dahulu kala, ada sebuah pohon apel
besar. Dia tumbuh di sebuah kebun yang tak seberapa luas. John adalah seorang
anak laki-laki yang suka datang dan bermain di sekitar pohon itu setiap hari.
Dia suka naik ke puncak pohon, makan apel, dan lalu tidur siang di
bayang-bayang pohon yang rindang. Dia sangat menyayangi pohon itu dan pohon
itu senang bermain bersamanya.
Waktu berlalu, John tumbuh dewasa
dan tak lagi bermain di sekitar pohon setiap hari. Si Pohon Apel sangat
merindukan masa-masa mereka bermain bersama. Dia hanya bisa sabar menunggu
John kembali kepadanya.
Suatu hari, John datang kembali tapi ia tampak sedih. "Ayo, John, bermainlah bersamaku," ajak si Pohon Apel.
"Aku bukan anak-anak lagi.
Aku sudah tidak bermain di sekitar pohon lagi," jawab John. "Aku
ingin membeli mainan, tapi aku tak punya uang," lanjutnya.
"Maaf, tapi aku pun tak punya
uang, tetapi kamu bisa mengambil apel-apelku ini dan menjualnya. Jadi, kamu
akan mendapatkan uang."
John begitu gembira. Ia lalu
memetik semua apel di pohon dan pergi dengan riang. Dia tak pernah kembali
setelah ia mengambil apel. Pohon itupun kembali sedih.
Suatu hari, John yang kini sudah
dewasa kembali datang. Pohon Apel menyambutnya dengan gembira.
"Ayo, John, bermainlah bersamaku," ajak si Pohon Apel.
"Ah, aku tak punya waktu
untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah
untuk tempat tinggal. Bisakah kau membantuku?"
"Maaf, tapi akupun tak punya
rumah. Tapi kamu boleh memotong cabang-cabang pohonku ini untuk membangun
rumahmu."
Jadi John memotong semua cabang
pohon dan pergi dengan riang. Pohon Apel itu senang melihat John bahagia tapi
dia tak pernah kembali sejak saat itu. Pohon Apel kembali merasa kesepian dan
sedih.
Suatu hari musim panas, John kembali dan si Pohon Apel gembira sekali melihatnya datang. "Ayo, John, bermainlah bersamaku," ajak si Pohon Apel.
"Aku mulai tua. Aku ingin
pergi berlayar untuk bersantai dan menikmati masa tuaku. Bisakah kau
memberiku perahu?" tanya John.
"Kamu bisa gunakan batang
pohonku untuk membangun perahumu, lalu berlayarlah dengan jauh dan menjadi
bahagia."
Jadi John memotong batang pohon
untuk membuat perahu. Ia pergi berlayar dan tidak pernah muncul untuk waktu
yang lama.
Akhirnya, John kembali lagi setelah
bertahun-tahun. John dan Pohon Apel sekarang sudah sama-sama tua.
"Maaf, anakku. Tapi aku tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada apel lagi untukmu, " kata si Pohon Apel.
"Tidak masalah, aku toh tak
punya gigi untuk menggigit," jawab John.
"Tidak ada lagi batang pohon
untuk kau naiki."
"Aku terlalu tua untuk itu
sekarang," kata John.
"Aku benar-benar sudah tak
bisa memberikan apa-apa, satu-satunya yang tersisa adalah akarku yang
sekarat," kata Pohon Apel dengan berlinangan air mata.
"Aku tidak membutuhkan banyak
sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Aku lelah setelah
bertahun-tahun," jawab John.
"Baik! Akar pohon tua adalah
tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat, duduklah sini bersamaku,
John, dan istirahatlah."
John pun duduk bersandarkan akar pohon yang masih tersisa dan Pohon Apel pun menangis bahagia. Akhirnya mereka pun bersama lagi. |
Langganan:
Postingan (Atom)