Senin, 13 Desember 2010

Pandangan Islam Terhadap Animisme dan Dinamisme

Pandangan Islam Terhadap Animisme dan Dinamisme
Sampai sejauh ini telah dibicarakan secara ringkas kepercayaan animisme, dinamisme dan gagasan tentang Tuhan tertinggi. Animisme dan dinamisme yang dibicarakan sejauh ini adalah sebagian kecil saja dari apa yang biasanya disebut agama bangsa-bangsa primitif dan secara keseluruhan merupakan gambaran yang bulat tentang agama bangsa-bangsa primitif.[i]
Sebagai telah dibicarakan diatas, bahwa dinamisme dan animisme adalah kepercayaan yang khayal belaka. Islam tidak membenarkannya, sebab hal itu termasuk syirik (menyekutukan Tuhan), orang yang menjalankannya disebut Musyrik.[ii]
Islam mengajarkan bahwa orang tidak boleh menghormati dan menyembah selain Allah, sebagaimana ditegaskan dalam syahadat yang pertama yang artinya ; saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Hanya Allah sajalah yang Maha Menjadikan, Maha Kuasa dan Maha Tinggi serta Maha Bijaksana.
Allah berfirman, yang artinya : “Janganlah kamu sujud bersembah kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan matahari dan bulan, jika kamu benar-benar ingin menyebah kepada-Nya”(QS. Fush-shilat : 37)
Kita sebagai kaum muslimin harus waspada, jangan sampai iman kita dikotori oleh anasir-anasir animisme. Benda adalah tetap benda, apakah benda itu berwujud sebutir batu, sepotong besi atau secarik kertas yang ditulisi, nilainya sama saja. Kesemuanya tak mungkin mengandung kekuatan ghaib, tak mungkin mengandung gaya sakti lebih dari apa yang telah ditentukan oleh sunnatullah atau hukum alam.
Tentang meminta pertolongan kepada roh yang telah mati dan mendatangkan roh tersebut, haruslah kita jauhi karena hal ini dilarang oleh agama. Menurut ilmu spiritisme (Ilmu Arwah Modern), memanggil roh orang telah mati memang mungkin, akan tetapi apakah gunanya kita memanggil roh itu, bahkan akan mengganggu ketenangan roh bila saban-saban kita panggil, sedang roh itu tak dapat memberi faedah apa-apa kepada kita.
Apalagi kalau kita ingat bahwa roh yang mudah dipanggil hanyalah roh-roh jahil (roh yang dalam keadaan bingung), roh-roh pendusta, roh-roh pembohong saja, yang kesemuanya itu jelas tidak dapat memberikan manfaat kepada kita.
Teori Animisme dan Teori Roh Dalam Al-qur’an
Teori animisme yang dikemukakan, mula-mula oleh Edward Burnett Tylor (1832-1917) didalam bukunya “Primitive Culture (1873), secara singkat adalah sebagai berikut :
Dengan adanya peristiwa-peristiwa seperti mimpi, sakit dan sebagainya yang dialami oleh orang-orang primitif, maka peristiwa-peristiwa tersebut membawa mereka kepada adanya pengertian tentang anima (roh). Dengan pengertian ini lalu mereka membuat kategori tentang pemisahan roh dan tubuh kasar, mereka lalu berpendapat bahwa terdapatlah roh pada setiap benda hidup dan juga benda mati.[iii]
Bila orang meninggal, rohnya hidup terus dan dari sanalah asal kepercayaan akan roh orang mati. Roh orang mati dapat mengunjungi manusia yang masih hidup di dalam mimpinya. Lama-kelamaan roh orang mati itu dipuja orang dan diangkat menjadi dewa-dewa.
Roh manusia yang telah mati menurut paham bangsa-bangsa premitif pindah ke tubuh binatang, hidup di gunung, di pohon kayu, di batu besar fetish dan sebagainya. Dan fetish ini bisa mempunyai bentuk apa saja seperti batu, kotak, gigi binatang dan sebagainya.
Suatu fetish adalah suatu kepercayaan yang lebih disukai berdasarkan karya-karyanya. Karena fetish itu berkarya, maka barang-barang yang bersangkutan itu mempunyai jiwa atau roh. Roh itu adalah suatu kekuatan yang tampak, kekuatan yang dapat membawa pemiliknya terhindar dari bahaya. Pandangan fetish dapat bersifat pemiliknya dapat berwujud manusia, orang-perorangan, ataupun kelompok, suatu keluarga ataupun seluruh rakyat. Fetish yang terdapat pada tentera Omaka (Indian) yang dapat berbuat luar biasa atau ajaib.
Teori roh sebagaimana dikemukan oleh Al-Qur’an pada hakikatnya dapat didefenisikan menjadi dua, yaitu :
1. Suatu rahasia Tuhan yang dengan itulah hidupnya tumbuh bagaikan air yang meresap ke dalam pohon yang hidup.
2. Suatu rahasia yang menjadi makanan hai, sehingga dengan demikian hiduplah hai manusia.
Berdasarkan arti ini dapatlah Al-Qur’an itu kita namakan roh sebab Al-Qur’an itu merupakan nur, cahaya dan tuntunan yang dapat menyembuhkan dan menghidupkan hati manusia. Dalam Al-Qur’an dikatakan :“Demikianlah kami wahyukan padamu Al-Qur’an dari perintah kami dan roh kami”. Jadi disini roh itu berarti Al-Qur’an, untuk makanan, untuk menghidupkan hati manusia dan demikian juga Jibril dinamakan roh, karena dialah yang membawa kebaikan dan rahasia-rahasia kerahmatan (Al-Qur’an) kepada nabi. Dalam Al-Qur’an disebutkan “Katakanlah wahai Muhammad, bahwa yang menurunkan Al-Qur’an itu adalah roh (Jibril) dari Tuhanmu”. Demikianlah sebabnya Al-Qur’an, Malaikat dan Rasul itu dinamakan roh. Dengan makna dan maksud bahwa semuanya itu memberi rahmat dan menghidupkan semua hati manusia di permukaan bumi.
Para menganut animisme ini adalah manusia yang tersesat yang belum menemukan jalan yang semestinya dilalui. Allah bukanlah roh sebagaimana anggapan mereka, bahkan Allah SWT yang menciptakan semua benda-benda, tumbuh-tumbuhan, binatang. Allah menciptakan dunia, pencipta manusia termasuk nenek moyang atau leluhur mereka, dan roh itu sendiri adalah termasuk salah satu ciptaan-Nya.
Memang masalah kehidupan sehari-hari mempunyai arti serta nilai religius. Hidup adalah keutuhan, karena itu masalah kepercayaan dipandang tidak terlepas dari hidupnya, namun terlepas sama sekali dari kebenaran agama yang sebenarnya dikarenakan oleh tidak adanya pengertian bahwa Allah telah mengutus Rasul-Nya yang terpilih untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk-Nya kepada seluruh umat manusia di dunia ini.
2.2. Beberapa Ayat Al-Qur’an Tentang Teori Roh (Animisme)
Teori animisme (roh-roh) banyak kita dapat unsur-unsurnya dalam Al-Qur’an. Seperti soal kebebasan kemauan dan terpisahnya (roh) manusia dari badan dan roh hewan dalam kehidupan ini, bertempatnya roh manusia sesudah mati dalam alam barzakh, yaitu tempat yang terdapat antara dunia dan akhirat, dan pertalian-pertalian roh-roh orang yang telah meninggalkan kehidupan di dunia. Kesemuanya itu kita dapati dalam Al-Qur’an antara lain dalam ayat-ayat berikut :
1. Tuhanlah yang mematikan (menidurkan) engkau diwaktu malam, dan dia mengetahui apa yang engkau perbuat pada siang hari. Kemudian dia membangkitkan engkau pada hari itu (kiamat) , agar dijalani masa yang telah ditentukan (Q. 6 : 60).
2. Tuhan mematikan jiwa-jiwa ketika (tiba masanya) matinya, dan bagi yang belum mati yaitu diwaktu tidurnya (Q. 39 : 42).
3. Janganlah engkau kira bahwa mereka yang terbunuh karena jalan Allah itu mati, melainkan karena mereka itu hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rezeki, gembira atas apa saja yang diberikan Tuhan kepada mereka berupa anugerah, dan optimislah (mereka gembira) terhadap mereka yang menyusuli mereka dan berada di belakangnya (Q. 3 : 169 - 170).
Di samping itu Al-Qur’an menyebutkan adanya roh-roh lain yang terpisah dari manusia, tetapi mereka berhubungan dengan kehidupannya, kadang-kadang untuk menolong manusia dan kadang-kadang tidak. Roh-roh tersebut adalah Malaikat-malaikat.
Bagi orang yang mengartikan teori animisme sama dengan teori kejiwaan,maka teori kejiwaan dipakai juga oleh Al-Qur’an, ketika menujukkan kelemahan manusia untuk mencapai segala tujuannya dan kelemahannya ketika menghadapi keputusan Zat Yang Maha Tinggi, serta keharusan menyerah kepada-Nya, sebagai yang tercantum dalam ayat berikut ini, yang artinya : “Adakah bagi manusia segala yang diinginkannya? Bagi Tuhan adalah yang pertama dan terakhir” (Q. 53 : 24 - 25)
Kalau animisme dimasukkan dalam golongan agama dengan pengertian obyektif, yaitu agama dalam segala apa yang dipercayai maka mempercayai segala nyawa berarti mempercayai segala Tuhan. Jadi kalau demikian artinya, maka animisme berarti mempunyai Tuhan banyak.
Bahkan Al-Qur’an menambah ukuran baru yang besar artinya bagi soal-soal ketuhanan, yaitu membelokkan kemauan dari tujuan, ketika kebencian menjadi kasih sayang dan rasa permusuhan menjadi kerukunan tanpa adanya campur tangan yang nyata dari alam terhadap perpindahan itu.
2.3. Dinamisme dan Teori Kekuatan Luar Biasa Dalam Al-Qur’an
Perkataan dinamisme berasal dari kata yang terdapat dalam bahasa Yunani, yaitu, dunamos dan diinggriskan menjadi dynamic yang umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kekuatan, kekuasaan atau khasiat dan dapat juga diterjemahkan dengan daya.
Selanjutnya dinamisme ada yang mengartikan dengan “sejenis paham dan perasaan keagamaan yang terdapat diberbagai bagian dunia, pada berjenis-jenis bangsa dan menunjukkan banyaknya persamaan-persamaan”. demikian Honig mengartikannya. Dr, Harun Hasution tidak mendefenisikan dinamisme secara tegas hanya menerangkan bahwa “bagi manusia premitif, yang tingkat kebudayaannya masih rendah sekali, tiap-tiap benda yang berada di sekelilingnya bisa mempunyai kekuatan batin yang misterius”.
Dalam Ensiklopedi umum dijumpai defenisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan premitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga preanismisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai mana (percaya adanya kekuatan yang maha yang berada dimana-mana).
T.S.G. Mulia menerangkan dinamisme sebagai suatu kepercayaan bahwa pada berbagai benda terdapat suatu kekuatan atau kesaktian, misalnya dalam api, batu-batu, tumbuh-tumbuhan, pada beberapa hewan dan juga manusia.
Dinamisme sendiri dapat juga diartikan lebih lanjut sebagai kepercayaan kepada suatu daya kekuatan atau kekuasaan yang teramat dan tidak pribadi, yang dianggap halus maupun berjasad yang dapat dimiliki maupun tidak dapat dimiliki oleh benda, binatang dan manusia.
Kalau kita pindah dari teori kekuatan luar biasa seperti yang dikemukan oleh Max Muller (1823 - 1900) dalam bukunya The Growth of Religion (1880), maka sebenarnya dalam Al-Qur’an banyak kita dapati menyebutkan gejala-gejala alam yang mendasyat dan luar biasa.
Gejala-gejala yang luar biasa ini mungkin juga ada diisyaratkan dalam Al-Qur’an seperti terdapat dari ayat-ayat berikut :
1. Diantar tanda adanya Tuhan ialah dia memperlihatkan kepada engkau sekalian kilat, untuk menimbulkan ketakutan dan harapan (Q. 30 : 24).
2. Guntur menyucikan keagungan Tuhan dan Malaikat-malaikat juga, karena takut kepada-Nya, dan Tuhan menurunkan petir-Nya kemudian menimpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Q. 13 : 13).
Bahkan Al-Qur’an tidak hanya mencukupkan dengan mengingatkan peristiwa-peristiwa yang mendasyat dan terjadi benar-benar, tetapi Al-Qur’an juga memperingatkan kejadian-kejadian mendatang sewaktu-waktu atau hal-hal yang mungkin terjadi tanpa dinantikan. Antara lain disebut dalam ayat berikut ini :
“Tidaklah mereka melihat apa yang ada di depan dan di belakang mereka, berupa langit dan bumi. Kalau kami menghendaki tentu kami membalikkan bumi di atas mereka, atau kami jatuhkan atas mereka gumpalan-gumpalan dari langit”.
Agama dalam arti obyektif ialah segala apa yang kita percayai, sedang agama dalam arti subyektif ialah dengan cara bagaimana kita berdiri di hadapan Tuhan dan bagaimana kita harus berkelakuan mentaati segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Dalam uraian tentang dinamisme terdapat beberapa pengertian atau defenisi yang diberikan terhadap dinamisme itu yang menghubungkannya langsung dengan agama. Ada yang mengatakan dinamisme sebagai sejenis paham dan perasaan keagamaan, ada juga yang mengatakan sebagai kepercayaan keagamaan dan juga sebagai salah satu macam bentuk struktur dari agama premitif.
Semua pengertian ini memperlihatkan suatu sikap yang sama yaitu keragu-raguan dalam menetapkan apakah dinamisme itu termasuk agama atau bukan, dengan kata lain orang tidak berani (tentu dengan alasan-alasan yang objektif) berkata bahwa dinamisme itu adalah agama atau sebaliknya, dinamisme itu bukan agama.
Kembali kepada dinamisme, maka dinamisme timbul dari perasaan takjub, takut dan merasa bahwa dirinya kecil sebagai manusia dan bergantung kepada daya-daya kekuatan sekitarnya. Mereka melihat sesuatu yang bersifat ilahi di dunia ini, tapi tidak dilukiskannya dalam pikiran sebagai sesuatu yang berpribadi.
Oleh sebab itu selamanya tidak terjadi hubungan engkau dan aku, tidak ada hubungan kepribadian antara dia dengan benda pujaannya. Sebab itu segala pengertian khusus yang ada di dalam agama seperti do’a, kurban, puasa dan sebagainya itu dalam arti tertentu, dalam dinamisme diubah bentuknya. Do’a menjadi mantera, suatu perbuatan yang mengandung daya kekuatan dan menimbulkan keajaiban-keajaiban, hilang sifatnya memohonnya kepada Allah. Do’a menjadi rumus yang sakti, yang di Jawa disebut Japamantra. Kurban menjadi suatu perbuatan magis yang mengeluarkan daya kekuatan sendiri, lepas dari ikatan ketuhanan. Begitu juga puasa diganti dengan tarak atau bertapa untuk mendapatkan daya kekuatan yang luar biasa.
Di dalam dinamisme pemujaan dan takut kepada daya-daya gaib yang luar biasa yang terdapat di dunia dan pada benda-benda itu dapat dibandingkan dengan agama pagan (agama suku, agam daerah atau agama etnis-premitif). Akan tetapi jika pemujaan itu berbalik menjadi praktek magis, maka dia menjadi lain sama sekali, karena penyembahan berubah menjadi menggagahi dan atau memperalat secara paksa.
Maka, sepanjang dinamisme tetap kepada kepribadiannya, yaitu memuja dan mempercayai kekuatan gaib, tidak berbalik menjadi magis yang memperkosa kekuatan gaib itu, dapatlah kiranya dia dimasukkan ke dalam kelompok agama pagan, syirik dan tidak ada ampunan Allah bagi orang-orang yang menyembah selain kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar