Ini cerita pernikahan Ali dan Fatimah yang bikin hati
meleleh
Dikutip dari Merdeka.com Reporter :
Mustiana
Lestari | Selasa, 10 Maret 2015 11:14
Merdeka.com - Para sahabat nabi memberi tauladan
dalam kehidupan. Banyak kisah menarik yang sampai membuat air mata menetes
karena keteladanan mereka.
Sebuah kisah datang dari putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, dan Ali Bin Abi
Talib. Pintu hati Ali terketuk pertama kali saat Fatimah dengan sigap membasuh
dan mengobati luka ayahnya, Muhammad SAW yang luka parah karena berperang.
Dari situ, dia bertekad untuk melamar putri nabi. Lantas dengan tekun dia
kumpulkan uang untuk membeli mahar dan mempersunting Fatimah.
Malang, belum genap uang
Ali untuk membeli Mahar, sahabat nabi Abu Bakar sudah terlanjur melamar
Fatimah.
Hancur hati Ali, namun dia sadar diri kalau saingan ini punya kualitas iman dan
Islam yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Walau dikenal sebagai pahlawan Islam
yang gagah berani, Ali dikenal miskin. Hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di
jalan Allah.
Namun mendung seakan sirna saat Ali mendengar Fatimah menolak lamaran Abu
Bakar.
Tapi keceriaan Ali kembali sirna saat orang dekat nabi lainnya, Umar Bin Khatab
meminang Fatimah. Lagi-lagi Ali hanya bisa pasrah karena dia tidak mungkin
bersaing dengan Umar yang gagah perkasa. Tapi takdir kembali berpihak
kepadanya. Umar mengalami nasib serupa dengan Abu Bakar.
Tapi saat itu Ali belum berani mengambil sikap, dia sadar dia hanya pemuda miskin.
Bahkan harta yang dia miliki hanya ada satu set baju besi di sana ditambah
persediaan tepung kasar untuk makannya. Kepada Abu Bakar As Siddiq, Ali
mengatakan, "Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang
sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi
Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang
satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa."
Abu Bakar terharu dan mengatakan, "Wahai Ali, janganlah engkau berkata
seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat
debu-debu bertaburan belaka!"
Mendengar jawaban Abu Bakar, kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar
gadis pujaannya saat teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar
Fatimah.
Dengan ragu-ragu dia menghadap Rasulullah. Dari hadist riwayat Ummu Salamah
diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut.
"Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum
baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai
suatu bekal mas kawin?"
"Demi Allah," jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang,
"Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang
diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah
baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."
"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin
Abi Talib, "Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di
jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air
bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh
karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju
besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib
bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di
langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!". Demikianlah riwayat yang
diceritakan Ummu Salamah r.a.
Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan
disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul
pernikahan puterinya,
"Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah
atas mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat
menerima hal itu."
Maka menikahlah Ali dengan Fatimah. Pernikahan mereka penuh dengan hikmah walau
diarungi di tengah kemiskinan. Bahkan disebutkan Rasulullah sangat terharu
melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu
suaminya.
Kelak Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keempat. Fatimah menjadi istri
satu-satunya selama hidup Ali.