Selasa, 01 November 2011
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN Di Fakultas Adab & Humaniora
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Di Fakultas Adab & Humaniora
Oleh :
Nim : 108025000044
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011/2012
A. Latar Belakang Masalah
Kebutuhan dalam bidang pengolahan menjadi sebuah hal yang mutlak. Perpustakaan yang maju adalah perpustakaan yang bisa memberikan pengolahan dengan cepat, tepat dan bermanfaa. Hal ini sudah terbukti di beberapa perpustakaan maju dalam informasi yang cepat berubah dan bersifat dinamis menuntut perpustakaan. Merupakan salah satu lembaga informasi untuk mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat dalam informasi di universitas Fakultas Adab & Humaniora jakarta.
Perpustakaan Fakultas Adab & Humaniora dengan kemampuannya dituntut untuk lebih bersifat dinamis, tidak hanya mengandalkan koleksi-koleksi atau literatur yang sudah ada dalam pengolahan. Dengan berkembangnya teknologi zaman sekarang, perpustakaan di harapkan mampu memberikan pengelolahan kepada masyarakat secara cepat, tepat dan benar.
Perpustakaan merupakan jantung perguruan tinggi (the heart of the campuss). Keberadaan perpustakaan mutlak diperlukan dalam rangka mendukung suksesnya perguruan tinggi yang bersangkutan. Perpustakaan berkewajiban untuk menyediakan berbagai sumber infomasi yang dapat mendukung semua aktivitas di perguruan tinggi yang dikenal dengan istilah ‘Tri Darma Perguruan Tinggi’ yang meliputi pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Di samping Perpustakaan Utama masih ada Perpustakaan Fakultas yang mendampingi keberadaan penyediaan informasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu :
• Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan
• Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora
• Perpustakaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
• Perpustakaan Fakultas Syari’ah dan Hukum
• Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
• Perpustakaan Fakultas Dirasat Islamiyah
• Perpustakaan Fakultas Psikologi
• Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
• Perpustakaan Fakultas Sains dan Teknologi
• Perpustakaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
• Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
• Perpustakaan Fakultas Pasca Sarjana
Berbicara mengenai perpustakaan di Universitas Islam Negeri Jakarta, salah satunya saya memilih perpustakaan yang ada di Universitas Islam Negeri Jakarta adalah perpustakaan Fakultas Adab & Humaniora yaitu perpustakaan yang berdiri di bawah naungan Perpustakaan Utama yang terdiri dari organisasi tertentu Perpustakaan ini dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan dalam pengelolahan untuk pemustaka guna mencapai tujuan dari organisasi tersebut yang menanganinya dimana koleksi dan kegiatannya diprioritaskan untuk anggota dan kebutuhan dari organisasi tersebut. Perpustakaan Utama sudah termasuk perpustakaan yang cukup memadai untuk dijadikan sebagai pusat dimana kalangan masyarakat mencari informasi perpustakaan dimana perpustakaan ini memiliki jumlah dalam pengelolahan koleksi mencapai puluhan ribu eksemplar dan memiliki komputer untuk mengakses unit-unit perpustakaan yang terdapat di Universitas Islam Negeri Jakarta
Cukup banyak hal yang telah kami dapatkan mengenai perpustakaan mulai dari perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakan Sekolah, Perpustakaan Khusus hingga Perpustakaan Umum. Seiring dengan adanya mata kuliah Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada semester 7 ini, maka saya berniat untuk mengadakan PKL di Perpustakaan yang sudah memiliki kriteria yang cukup baik untuk dikatakan sebagai perpustakaan.
B. Tujuan
• Menambah pengalaman didunia perpustakaan
• Menambah pengetahuan di perpustakaan yang berada suatu universitas tentang gambaran umum dan tata kerjanya.
• Untuk mengetahui gambaran penelitian untuk judul skripsi saya nanti.
• Peran perpustakaan dalam penyimpanan informasi
RENCANA PELAKSANAAN PKL
A. Tempat Pelaksanaan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) tahun 2012 akan dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan Dengan berlokasi di Perpustakaan Adab & Humaniora, lantai 4
Alasan pemilihan tempat kegiatan :
1. Pihak perpustakaan sangat terbuka dan merespon baik kegiatan yang akan dilaksanakan.
2. Sehubungan dengan jurusan ilmu perpustakaan, maka saya ingin menambah wawasan tentang dunia perpustakaan.
B. Rencana Pelaksanaan Aktivitas
Dalam PKL 2012 ini akan dilakukan beberapa kegiatan yaitu :
1. Membantu staff perpustakaan, dalam bidang pengadaan, pengolahan, pelayanan
2. Membantu dalam penelusuran informasi melalui OPAC.
C. Jadwal Kegiatan
Untuk jadwal kegiatan belum tertulis mengingat jadwal kegiatan akan disesuaikan dengan jadwal dilapangan. Jadwal kegiatan yang rinci akan dicantumkan dalam laporan kegiatan PKL.
D. Hasil yang diharapkan
Dalam pelaksanaan PKL 2012 ini hasil yang diharapkan adalah :
1. Mengetahui peran perpustakaan
2. Menambah pengetahuan dan pengalaman serta keterampilan saya secara pribadi dalam dunia perpustakaan.
PENUTUP
Demikianlah proposal ini saya buat sebagai gambaran dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan dilaksanakan. Dengan doa dan harapan semoga apa yang akan direncanakan dapat terlaksana dengan lancar dan diberi kemudahan oleh Allah SWT. Dan atas bantuan dan kerjasamanya saya mengucapkan terima kasih.
Selasa, 18 Januari 2011
PROPOSAL PENELITIAN
“Pengadaan Bahan Pustaka Bagi Penyandang Tuna Netra di Perpustakaan Yayasan Mitra Netra".
Disusun Oleh:
Danang Nur Cahyadi
108025000044
JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
JAKARTA
2011
PROPOSAL SKRIPSI
“Pengadaan Bahan Pustaka Bagi Penyandang Tuna Netra di Perpustakaan Yayasan Mitra Netra”
A. Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi dan tekhnologi ini, informasi dan ilmu pengetahuan menjadi suatu kebutuhan yang harus kita raih agar menunjang kehidupan yang lebih baik. Banyak cara yang dapat kita tempuh untuk meraih semua itu dengan salah satu cara yaitu rajin membaca. Dengan membaca kita tahu apa yang sedang berkembang atau yang sedang up to date pada masa atau era sekarang. Tidak lepas dari semua itu, perpustakaan menjadi salah satu yang bisa menjadi tempat sebagai rujukan pencarian informasi. Hal yang menjadi pertanyaan apa itu perpustakaan? Sulistyo Basuki mendefinisikan perpustakaan sebagai sebuah ruangan bagian dari gedung ataupun gedung tersendiri yang di gunakan untuk menyimpan buku serta terbitan lainnya. Definisi lainnya menyebutkan bahwa perpustakaan adalah kumpulan bahan tercetak dan non-cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk kepentingan pemakai, dari buku yang berbeda Sulistiyo Basuki mendefinisikan perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian atau sub bagian dari sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku, biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu serta digunakan untuk anggota perpustakaan. Dengan semakin berkembangnya sarana-sarana yang terdapat di perpustakaan dan semakin banyaknya perpustakaan menjadi suatu kemudahan sebagian masyarakat untuk melakukan pencarian informasi.
Namun demikian tidak semua orang atau masyarakat yang bisa menikmati dan menggunakan koleksi yang terdapat di perpustakaan sebagai sarana untuk melakukan pencarian informasi. Contohnya sebagian orang yang memiliki kekurangan pada fisiknya seperti penyandang tuna netra harus memerlukan satu layanan yang khusus yang dapat mempermudah dalam pencarian informasi seperti layaknya masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu diperlukan perhatian khusus dan kerjasama dari pihak-pihak yang terkait seperti pustakawan dan pemerintah sehingga dalam penyediaan dan koleksi khusus tuna netra dapat terealisasikan semisalnya dengan menyediakan koleksi Braille dan koleksi rekaman audio/ suara pada perpustakaan umum dan khusus untuk penyandang cacat.
Akan tetapi tidak terlalu banyaknya penerbit yang menerbitkan jenis buku khusus penyandang tuna netra menjadikan penyediaan informasi dalam bentuk koleksi buku dan audio masih sangan sedikit. Sementara jumlah penyandang cacat di Indonesia yang membutuhkan informasi sangatlah banyak. Dari banyak permasalah yang menjadi kendala pada perpustakaan penyandang cacat tuna netra itu akan menjadi suatu motivasi atau sebagai tantangan bagi para pustakawan di Indonesia untuk memajukan perpustakaan tidak hanya secara umum tetapi dengan manufer-manufer pemikiran dan pengembangan suatu ide yang dapat memajukan perpustakaan yang tidak hanya dapat dikunjungi dan digunakan koleksinya oleh masyarakat umumnya tetapi dapat digunakan juga oleh sebagian masyarakat yang menyandang cacat seperti penyadang tuna netra karena mereka berhak mendapatkan perlakuan yang sama seperti masyarakat kebanyakan.
Salah satu perpustakaan khusus penyandang tuna netra yang ada di Indonesia dan terletak di wilayah Lebak Bulus Jakarta Selatan dan nama perpustakaan itu adalah perpustakaan Mitra Netra. Perpustakaan yang berada dibawah naungan yayasan Mitra Netra ini memiliki berbagai macam koleksi yang berbentuk buku Braille dan koleksi bahan rekaman. Keberadaan perpustakaan Mitra Netra ini sangatlah membantu dan berarti bagi penggunannya yang kebanyakan penyandang tuna netra.
Dan dalam pengadaan bahan pustaka bagi penyandang tuna netra sangatlah banyak terkendalan sebab itulah perpustakaan Mitra Netra memerlukan pengorganisasian secara terencana dan khusus dalam pengadaan bahan pustaka huruf Braille dan bahan rekaman suara.
Berdasarkan masalah-masalah di atas penulis ingin mengajukan penelitian dalam bentuk skripsi yang berjudul :
“Pengadaan Bahan Pustaka Bagi Penyandang Tuna Netra di Perpustakaan Yayasan Mitra Netra”
A. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar dalam penulisan skripsi ini tidak melebar maka penulis memfokuskan penelitian mengenai pengadaan bahan pustaka Braille dan bahan rekaman audio suara pada perpustakaan Mitra Netra.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan-batasan yang telah digariskan di dalam pembahasan Masalah maka ditetapkanlah satu rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana upaya pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra oleh pihak perpustakaan Mitra Netra ?
b. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak perpustakaan Mitra Netra dalam pengadaan bahan pustaka dan bagaimana cara untuk mengatasi kendala-kandala tersebut ?
A. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui system pengadaan bahan pustaka pada perpustakaan Mitra Netra.
b. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra.
c. Mengetahu cara untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra.
d. Melengkapi tugas dan memenuhi syarat dalam mencapai nilai tugas Metodologi Penelitian dan sebagai gambaran atau latihan untuk membuat proposal dalam skripsi akhir.
1. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan nilai lebih bagi perkembangan jurusan ilmu perpustakaan pada umumnya serta perpustakaan Mitra Netra pada khususnya.terutama bagi pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra dan seluruh perpustakaan yang masih terkendala oleh pengadaan bahan pustaka. Dan mudah-mudahan penelitian ini tidak sia-sia dan dapat memberikan masukan-masukan yang berguna bagi pengadaan bahan pustaka bagi perpustakaan Mitra Netra dan bagi para pembaca agar mendapatkan pengetahuan lebih dari penelitian tentang pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra dan dapat termotivasi dan tersemangatkan.
A. Metodologi Penelitian
Dalam penyelesaian tugas akhir skripsi ini dan dengan menerapkan metode-metode yang telah ada maka dengan ini mengambil metode-metode Deskriptif analisis yang dimaksud deskriptif analisis adalah kegiatan yang di lakukan untuk menggambarkan kondisi yang dilihat dalam lapangan secara apa adanya data-data yang diselidiki atau diteliti kemidian dianalisa, diberikan interpretasi dan diadakan generalisasi dalam rangka menetapkan sikap dan criteria yang baik dengan tujuan untuk mengadakan klasifikasi pekerjaan. Dalam hal ini penulis mengambil langkah-langkah dalam metode lapangan diantaranya:
1. Penelitian Perpustakaan (Library Research)
Metode ini dilakukan dengan mempelajari literature/buku-buku, dokumen, artikel yang sudah ada yang harus diambil, diamati, dan diidntifikasi agar mendapatkan gambaran yang sesuai dengan pembahasan skripsi.
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Metode ini bertujuan agar mendapatkan data-data secara langsung dari objek penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Yaitu dengan cara:
a. Interview (wawancara)
Yaitu pengambilan informasi secara langsung dari piha-pihak yang terkait.
b. Observasi
Yaitu pengambilan informasi dengan cara pengamatan langsung ke objek yang diteliti atau tempat yang diteliti.
B. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam penyusunan skripsi maka dengan ini penulis menggunakan sistematika penulsan dan terbagi dari 5 bab diantaranya:
BAB I : Terdiri dari pendahuluan, latar belakang masalah,rumusan masalah,batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodelogi penelitian dan sistematika penelitian
BAB II : Terdiri dari tinjauan literatur, yang mengupas semua tentang definisi perpustakaan khusus.
BAB III : Terdiri dari gambaran umum perpustakaan Mitra Netra yang terdiri dari sejarah singkat,visi & misi, struktur organisasi perpustakaan Mitra Netra.
BAB IV : Terdiri dari hasil penelitian yang dimana hasil penelitian dirangkum dari segala aspek-aspek tentang pengadaan bahan pustaka perpustakaan Mitra Netra.
BAB V : Terdiri dari penutup yang berisikan keimpulan dan saran-saran.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, et al. Pedoman penulisan skripsi,tesis dan disertasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta: UIN Jakarta Press,2002.
Basuki, Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1993.
Basuki , Sulistyo. Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Jakarta: Gramedia, 1994.
Haryono; et al. Pembinaan Dan Pengembangan Koleksi Pada Pusat Perpustakaan Islam Indonesia Masjid Istiqlal Jakarta: UIN Jakarta, 2005.
NS, Sutarno, Perpustakaan Dan Masyarakat, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,2003.
Nurhayati; et al. Pembinaan Dan Pengembangan Koleksi Pada Perpustakaan Yayasan Mitra Netra: UIN Jakarta, 2006.
“Pengadaan Bahan Pustaka Bagi Penyandang Tuna Netra di Perpustakaan Yayasan Mitra Netra".
Disusun Oleh:
Danang Nur Cahyadi
108025000044
JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
JAKARTA
2011
PROPOSAL SKRIPSI
“Pengadaan Bahan Pustaka Bagi Penyandang Tuna Netra di Perpustakaan Yayasan Mitra Netra”
A. Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi dan tekhnologi ini, informasi dan ilmu pengetahuan menjadi suatu kebutuhan yang harus kita raih agar menunjang kehidupan yang lebih baik. Banyak cara yang dapat kita tempuh untuk meraih semua itu dengan salah satu cara yaitu rajin membaca. Dengan membaca kita tahu apa yang sedang berkembang atau yang sedang up to date pada masa atau era sekarang. Tidak lepas dari semua itu, perpustakaan menjadi salah satu yang bisa menjadi tempat sebagai rujukan pencarian informasi. Hal yang menjadi pertanyaan apa itu perpustakaan? Sulistyo Basuki mendefinisikan perpustakaan sebagai sebuah ruangan bagian dari gedung ataupun gedung tersendiri yang di gunakan untuk menyimpan buku serta terbitan lainnya. Definisi lainnya menyebutkan bahwa perpustakaan adalah kumpulan bahan tercetak dan non-cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk kepentingan pemakai, dari buku yang berbeda Sulistiyo Basuki mendefinisikan perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian atau sub bagian dari sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku, biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu serta digunakan untuk anggota perpustakaan. Dengan semakin berkembangnya sarana-sarana yang terdapat di perpustakaan dan semakin banyaknya perpustakaan menjadi suatu kemudahan sebagian masyarakat untuk melakukan pencarian informasi.
Namun demikian tidak semua orang atau masyarakat yang bisa menikmati dan menggunakan koleksi yang terdapat di perpustakaan sebagai sarana untuk melakukan pencarian informasi. Contohnya sebagian orang yang memiliki kekurangan pada fisiknya seperti penyandang tuna netra harus memerlukan satu layanan yang khusus yang dapat mempermudah dalam pencarian informasi seperti layaknya masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu diperlukan perhatian khusus dan kerjasama dari pihak-pihak yang terkait seperti pustakawan dan pemerintah sehingga dalam penyediaan dan koleksi khusus tuna netra dapat terealisasikan semisalnya dengan menyediakan koleksi Braille dan koleksi rekaman audio/ suara pada perpustakaan umum dan khusus untuk penyandang cacat.
Akan tetapi tidak terlalu banyaknya penerbit yang menerbitkan jenis buku khusus penyandang tuna netra menjadikan penyediaan informasi dalam bentuk koleksi buku dan audio masih sangan sedikit. Sementara jumlah penyandang cacat di Indonesia yang membutuhkan informasi sangatlah banyak. Dari banyak permasalah yang menjadi kendala pada perpustakaan penyandang cacat tuna netra itu akan menjadi suatu motivasi atau sebagai tantangan bagi para pustakawan di Indonesia untuk memajukan perpustakaan tidak hanya secara umum tetapi dengan manufer-manufer pemikiran dan pengembangan suatu ide yang dapat memajukan perpustakaan yang tidak hanya dapat dikunjungi dan digunakan koleksinya oleh masyarakat umumnya tetapi dapat digunakan juga oleh sebagian masyarakat yang menyandang cacat seperti penyadang tuna netra karena mereka berhak mendapatkan perlakuan yang sama seperti masyarakat kebanyakan.
Salah satu perpustakaan khusus penyandang tuna netra yang ada di Indonesia dan terletak di wilayah Lebak Bulus Jakarta Selatan dan nama perpustakaan itu adalah perpustakaan Mitra Netra. Perpustakaan yang berada dibawah naungan yayasan Mitra Netra ini memiliki berbagai macam koleksi yang berbentuk buku Braille dan koleksi bahan rekaman. Keberadaan perpustakaan Mitra Netra ini sangatlah membantu dan berarti bagi penggunannya yang kebanyakan penyandang tuna netra.
Dan dalam pengadaan bahan pustaka bagi penyandang tuna netra sangatlah banyak terkendalan sebab itulah perpustakaan Mitra Netra memerlukan pengorganisasian secara terencana dan khusus dalam pengadaan bahan pustaka huruf Braille dan bahan rekaman suara.
Berdasarkan masalah-masalah di atas penulis ingin mengajukan penelitian dalam bentuk skripsi yang berjudul :
“Pengadaan Bahan Pustaka Bagi Penyandang Tuna Netra di Perpustakaan Yayasan Mitra Netra”
A. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar dalam penulisan skripsi ini tidak melebar maka penulis memfokuskan penelitian mengenai pengadaan bahan pustaka Braille dan bahan rekaman audio suara pada perpustakaan Mitra Netra.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan-batasan yang telah digariskan di dalam pembahasan Masalah maka ditetapkanlah satu rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana upaya pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra oleh pihak perpustakaan Mitra Netra ?
b. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak perpustakaan Mitra Netra dalam pengadaan bahan pustaka dan bagaimana cara untuk mengatasi kendala-kandala tersebut ?
A. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui system pengadaan bahan pustaka pada perpustakaan Mitra Netra.
b. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra.
c. Mengetahu cara untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra.
d. Melengkapi tugas dan memenuhi syarat dalam mencapai nilai tugas Metodologi Penelitian dan sebagai gambaran atau latihan untuk membuat proposal dalam skripsi akhir.
1. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan nilai lebih bagi perkembangan jurusan ilmu perpustakaan pada umumnya serta perpustakaan Mitra Netra pada khususnya.terutama bagi pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra dan seluruh perpustakaan yang masih terkendala oleh pengadaan bahan pustaka. Dan mudah-mudahan penelitian ini tidak sia-sia dan dapat memberikan masukan-masukan yang berguna bagi pengadaan bahan pustaka bagi perpustakaan Mitra Netra dan bagi para pembaca agar mendapatkan pengetahuan lebih dari penelitian tentang pengadaan bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan Mitra Netra dan dapat termotivasi dan tersemangatkan.
A. Metodologi Penelitian
Dalam penyelesaian tugas akhir skripsi ini dan dengan menerapkan metode-metode yang telah ada maka dengan ini mengambil metode-metode Deskriptif analisis yang dimaksud deskriptif analisis adalah kegiatan yang di lakukan untuk menggambarkan kondisi yang dilihat dalam lapangan secara apa adanya data-data yang diselidiki atau diteliti kemidian dianalisa, diberikan interpretasi dan diadakan generalisasi dalam rangka menetapkan sikap dan criteria yang baik dengan tujuan untuk mengadakan klasifikasi pekerjaan. Dalam hal ini penulis mengambil langkah-langkah dalam metode lapangan diantaranya:
1. Penelitian Perpustakaan (Library Research)
Metode ini dilakukan dengan mempelajari literature/buku-buku, dokumen, artikel yang sudah ada yang harus diambil, diamati, dan diidntifikasi agar mendapatkan gambaran yang sesuai dengan pembahasan skripsi.
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Metode ini bertujuan agar mendapatkan data-data secara langsung dari objek penelitian dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Yaitu dengan cara:
a. Interview (wawancara)
Yaitu pengambilan informasi secara langsung dari piha-pihak yang terkait.
b. Observasi
Yaitu pengambilan informasi dengan cara pengamatan langsung ke objek yang diteliti atau tempat yang diteliti.
B. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam penyusunan skripsi maka dengan ini penulis menggunakan sistematika penulsan dan terbagi dari 5 bab diantaranya:
BAB I : Terdiri dari pendahuluan, latar belakang masalah,rumusan masalah,batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodelogi penelitian dan sistematika penelitian
BAB II : Terdiri dari tinjauan literatur, yang mengupas semua tentang definisi perpustakaan khusus.
BAB III : Terdiri dari gambaran umum perpustakaan Mitra Netra yang terdiri dari sejarah singkat,visi & misi, struktur organisasi perpustakaan Mitra Netra.
BAB IV : Terdiri dari hasil penelitian yang dimana hasil penelitian dirangkum dari segala aspek-aspek tentang pengadaan bahan pustaka perpustakaan Mitra Netra.
BAB V : Terdiri dari penutup yang berisikan keimpulan dan saran-saran.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, et al. Pedoman penulisan skripsi,tesis dan disertasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta: UIN Jakarta Press,2002.
Basuki, Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud, 1993.
Basuki , Sulistyo. Periodisasi Perpustakaan Indonesia. Jakarta: Gramedia, 1994.
Haryono; et al. Pembinaan Dan Pengembangan Koleksi Pada Pusat Perpustakaan Islam Indonesia Masjid Istiqlal Jakarta: UIN Jakarta, 2005.
NS, Sutarno, Perpustakaan Dan Masyarakat, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,2003.
Nurhayati; et al. Pembinaan Dan Pengembangan Koleksi Pada Perpustakaan Yayasan Mitra Netra: UIN Jakarta, 2006.
Jumat, 14 Januari 2011
“Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam : Manifestasi”.
Saya akan menilai koleksi bahan rujukan Islam yang berjudul :
“Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam : Manifestasi”.
Pengarangnya adalah Sayyed Hossein Nasr.
Buku referensi Islam ini diterbitkan oleh Mizzan pada terbitan pertama tahun 1997 dan telah di alih bahasakan ke bahasa Indonesia pada tahun 2003. Isi cakupan yang terdapat pada buku referensi ini menjelaskan tentang sejarah realisasi prinsip tauhid serta tasawuf dan juga figur-figur Sufi terkemuka yang berperan dalam membentuk corak tasawuf dan keberagaman umat Islam pada masanya. Tidak hanya itu, buku ini juga menjelaskan tentang berbagai permasalahan dan penyelesaian masalah saat para tokoh-tokoh sufi membentuk corak tasawuf dan keberagaman umat islam pada masanya. Para pengguna buku referensi ini kebanyakan adalah mahasiswa, dosen, para ulama, para peneliti khususnya para peneliti Islam dan juga para masyarakat umum yang ingin lebih mengetahui secara spesifik tentang ilmu-ilmu tasawuf dan juga tokoh-tokohnya.
Buku ini memiliki format fisik yang cukup baik seperti buku referensi ini adalah cetakan yang pertama memiliki 755 halaman serta tambahan xxii untuk prakata dan daftar isinya. Pada bagian cover luarnya terbuat dari hard cover serta bagian dalamnya atau kertas yang di gunakan adalah kertas HVS yang pada dasarnya berwarna putih tetapi karena telah beberapa tahun kertas pada buku reverensi ini berwarna agak kekuning-kuningan serta kertasnya sudah agak keras atau tidak lentur lagi saat lembar berikutnya dibalik. Pada cover depan telah diberikan sampul plastik agar cover aslinya tidak rusak. Tinggi buku sekitar 23,5 cm dan lebar buku sekitar 15 cm.
Penyajian informasi yang terdapat pada buku reverensi ini terdapat pada setiap entrinya yang setiap judul entrinya ditulis tebal dan terdapat nama pengarangnya pada setiap judul entri serta terdapat kepala judul di bagian atas setiap lembarnya sedangkan penyajian isi informasi buku ini menyajikan tentang tasawuf dan para tokoh-tokoh sufi yang disajikan dalam bahasa indonesia yang telah di literasikan dari bahasa Arab dan Inggris. Dalam penulisan judul entrinnya tidak alfabetis dikarenakan pada setiap entrinya saling berkaitan dan buku reverensi ini bukanlah kamus yang setiap entrinya alfabetis. Karakter khusus yang terdapat pada buku reverensi ini adalah pada huruf awalan pertamanya dicetak tebal dan besar dengan huruf kapital. Pada satiap lembarnya buku ini terdapat kepala judul di bagian atas serta terdapat nama pengarang pada setiap judul entrinya.
Susunan entri yang terdapat pada buku ini, entrinya disusun menggunakan bahasa Indonesia dan terdapat nama pengarangnya pada setiap judul entrinya serta pada penulisan entrinya mengguanakan huruf kecil dan diawali dengan huruf kapital pada setiap awal kalimat yang tidak disusun berdasarkan sistematika tertentu. Pada buku reverensi islam ini terdapat indeks tetapi tidak terdapat bibliografinya. Pada indeks yang didalamnya berisikan daftar nama tokoh yang dibahas dan di samping nama tokoh itu terdapat halaman yang membahasnya. Pada penyususnan indeks disusun secara alfabetis latin dan terbagi 2 kolom pada lembaran indeksnya. Revisi/ edisi baru/ supplemen buku reverensi islam ini sepertinya ada dikarenakan buku ini adalah buku reverensi yang sangat dibutuhkan oleh pemakai yang memerlukan buku ini sebagai rujukan suatu penelitian atau lainnya bila yang membutuhkannya banyak pasti cetakan buku ini akan ditambah atau di perbanyak. Karya serupa (similar works) yang sama dengan buku reverensi Islam ini adalah “ Islamic Spirituality : Manifestations” yang entrinya berbahasa Inggris.
Contoh Entri :
Ibrᾱhῑm Hakki Erzerumlu : Gӧrelim Hakk ne eyler-n’ eylerse ḡuzel eyler. (Hal 306).
Penjelasan contoh entri :
Ibrᾱhῑm Hakki Erzerumlu : Gӧrelim Hakk ne eyler-n’ eylerse ḡuzel eyler
Artinya : “Mari kita lihat apa yang Tuhan lakukan-apa pun yang Dia kerjakan, Dia melakukannya dengan indah! []. (Hal 306).
Kesimpulan
Dari hasil penilaian koleksi rujukan islam yang berjudul “Ensiklopedi Spiritualitas Islam : Manifestasi” dapat dikatakan buku reverensi islam yang baik dan layak untuk sebagai bahan rujukan karena buku ini dapat memenuhi beberapa persyaratan untuk menjadi bahan reverensi atau bahan rujukan islam. Berbagai persyaratan yang telah dipenuhi oleh buku ini, yaitu :
1. Dari segi judul yang baik yang banyak dicari para pembaca atau peneliti.
2. Dari segi kepengarangan yang baik.
3. Dari segi isi entri atau informasi yang ada dalam buku ini.
4. Dari segi penyajian informasinya.
5. Dari segi susunan entri dan juga asal isi informasi yang dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya.
Namun, buku ini juga memiliki kekurangan yang dapat mengurangi syarat-syarat kelayakan sebagai buku rujukan islam. Adapun kekurangan yang ada menurut penulis, yaitu:
1. Tidak terdapatnya Bibliografi.
2. Belum adanya revisi/edisi baru/supplemen.
Dalam setiap buku pasti memiliki kekurangan dan kelebihan maka dari itu, pada setiap kelebihan akan menjadikan acuan agar buku itu lebih baik lagi dan bila masih ada kekurangannya agar menjadi pelajaran agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.
“Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam : Manifestasi”.
Pengarangnya adalah Sayyed Hossein Nasr.
Buku referensi Islam ini diterbitkan oleh Mizzan pada terbitan pertama tahun 1997 dan telah di alih bahasakan ke bahasa Indonesia pada tahun 2003. Isi cakupan yang terdapat pada buku referensi ini menjelaskan tentang sejarah realisasi prinsip tauhid serta tasawuf dan juga figur-figur Sufi terkemuka yang berperan dalam membentuk corak tasawuf dan keberagaman umat Islam pada masanya. Tidak hanya itu, buku ini juga menjelaskan tentang berbagai permasalahan dan penyelesaian masalah saat para tokoh-tokoh sufi membentuk corak tasawuf dan keberagaman umat islam pada masanya. Para pengguna buku referensi ini kebanyakan adalah mahasiswa, dosen, para ulama, para peneliti khususnya para peneliti Islam dan juga para masyarakat umum yang ingin lebih mengetahui secara spesifik tentang ilmu-ilmu tasawuf dan juga tokoh-tokohnya.
Buku ini memiliki format fisik yang cukup baik seperti buku referensi ini adalah cetakan yang pertama memiliki 755 halaman serta tambahan xxii untuk prakata dan daftar isinya. Pada bagian cover luarnya terbuat dari hard cover serta bagian dalamnya atau kertas yang di gunakan adalah kertas HVS yang pada dasarnya berwarna putih tetapi karena telah beberapa tahun kertas pada buku reverensi ini berwarna agak kekuning-kuningan serta kertasnya sudah agak keras atau tidak lentur lagi saat lembar berikutnya dibalik. Pada cover depan telah diberikan sampul plastik agar cover aslinya tidak rusak. Tinggi buku sekitar 23,5 cm dan lebar buku sekitar 15 cm.
Penyajian informasi yang terdapat pada buku reverensi ini terdapat pada setiap entrinya yang setiap judul entrinya ditulis tebal dan terdapat nama pengarangnya pada setiap judul entri serta terdapat kepala judul di bagian atas setiap lembarnya sedangkan penyajian isi informasi buku ini menyajikan tentang tasawuf dan para tokoh-tokoh sufi yang disajikan dalam bahasa indonesia yang telah di literasikan dari bahasa Arab dan Inggris. Dalam penulisan judul entrinnya tidak alfabetis dikarenakan pada setiap entrinya saling berkaitan dan buku reverensi ini bukanlah kamus yang setiap entrinya alfabetis. Karakter khusus yang terdapat pada buku reverensi ini adalah pada huruf awalan pertamanya dicetak tebal dan besar dengan huruf kapital. Pada satiap lembarnya buku ini terdapat kepala judul di bagian atas serta terdapat nama pengarang pada setiap judul entrinya.
Susunan entri yang terdapat pada buku ini, entrinya disusun menggunakan bahasa Indonesia dan terdapat nama pengarangnya pada setiap judul entrinya serta pada penulisan entrinya mengguanakan huruf kecil dan diawali dengan huruf kapital pada setiap awal kalimat yang tidak disusun berdasarkan sistematika tertentu. Pada buku reverensi islam ini terdapat indeks tetapi tidak terdapat bibliografinya. Pada indeks yang didalamnya berisikan daftar nama tokoh yang dibahas dan di samping nama tokoh itu terdapat halaman yang membahasnya. Pada penyususnan indeks disusun secara alfabetis latin dan terbagi 2 kolom pada lembaran indeksnya. Revisi/ edisi baru/ supplemen buku reverensi islam ini sepertinya ada dikarenakan buku ini adalah buku reverensi yang sangat dibutuhkan oleh pemakai yang memerlukan buku ini sebagai rujukan suatu penelitian atau lainnya bila yang membutuhkannya banyak pasti cetakan buku ini akan ditambah atau di perbanyak. Karya serupa (similar works) yang sama dengan buku reverensi Islam ini adalah “ Islamic Spirituality : Manifestations” yang entrinya berbahasa Inggris.
Contoh Entri :
Ibrᾱhῑm Hakki Erzerumlu : Gӧrelim Hakk ne eyler-n’ eylerse ḡuzel eyler. (Hal 306).
Penjelasan contoh entri :
Ibrᾱhῑm Hakki Erzerumlu : Gӧrelim Hakk ne eyler-n’ eylerse ḡuzel eyler
Artinya : “Mari kita lihat apa yang Tuhan lakukan-apa pun yang Dia kerjakan, Dia melakukannya dengan indah! []. (Hal 306).
Kesimpulan
Dari hasil penilaian koleksi rujukan islam yang berjudul “Ensiklopedi Spiritualitas Islam : Manifestasi” dapat dikatakan buku reverensi islam yang baik dan layak untuk sebagai bahan rujukan karena buku ini dapat memenuhi beberapa persyaratan untuk menjadi bahan reverensi atau bahan rujukan islam. Berbagai persyaratan yang telah dipenuhi oleh buku ini, yaitu :
1. Dari segi judul yang baik yang banyak dicari para pembaca atau peneliti.
2. Dari segi kepengarangan yang baik.
3. Dari segi isi entri atau informasi yang ada dalam buku ini.
4. Dari segi penyajian informasinya.
5. Dari segi susunan entri dan juga asal isi informasi yang dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya.
Namun, buku ini juga memiliki kekurangan yang dapat mengurangi syarat-syarat kelayakan sebagai buku rujukan islam. Adapun kekurangan yang ada menurut penulis, yaitu:
1. Tidak terdapatnya Bibliografi.
2. Belum adanya revisi/edisi baru/supplemen.
Dalam setiap buku pasti memiliki kekurangan dan kelebihan maka dari itu, pada setiap kelebihan akan menjadikan acuan agar buku itu lebih baik lagi dan bila masih ada kekurangannya agar menjadi pelajaran agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Minggu, 02 Januari 2011
Corak Kehidupan Masyarakat Prasejarah Indonesia
Kebudayaan dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Masyarakat dapat bertahan hidup karena menghasilkan kebudayaan, kebudayaan itu ada karena dihasilkan oleh masyarakat. Dan melalui kebudayaanlah segala corak kehidupan masyarakat dapat diketahui.
Dengan demikian dari hasil-hasil kebudayaan material seperti yang Anda pelajari pada kegiatan belajar 1 dapat dikaji dan dipelajari corak kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia, seperti yang akan diuraikan pada uraian materi berikut ini.
1. Sistem kepercayaan
Sistem kepercayaan masyarakat prasejarah diperkirakan mulai tumbuh pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut atau disebut dengan masa bermukim dan berladang yang terjadi pada zaman Mesolithikum.
Mengenai bukti adanya kepercayaan pada zaman Mesolithikum dapat Anda tulis pada titik-titik di bawah ini.
Buktinya adalah ....
Bukti lain yang turut memperkuat adanya corak kepercayaan pada zaman prasejarah adalah ditemukannya lukisan perahu pada nekara. Lukisan tersebut menggambarkan kendaraan yang akan mengantarkan roh nenek moyang ke alam baka. Hal ini berarti pada masa tersebut sudah mempercayai akan adanya roh.
Kepercayaan terhadap roh terus berkembang pada zaman prasejarah hal ini tampak dari kompleksnya bentuk-bentuk upacara penghormatan, penguburan dan pemberian sesajen. Kepercayaan terhadap roh inilah dikenal dengan istilah Aninisme.
Aninisme berasal dari kata Anima artinya jiwa atau roh, sedangkan isme artinya paham atau kepercayaan. Di samping adanya kepercayaan animisme, juga terdapat kepercayaan Dinamisme.
Dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Contohnya yaitu kapak yang dibuat dari batu chalcedon (batu indah) dianggap memiliki kekuatan. Untuk contoh-contoh yang lain dapat Anda baca kembali uraian materi kegiatan belajar 1 modul ini. Dengan demikian kepercayaan masyarakat prasejarah adalah Animisme dan Dinamisme. Apakah dari uraian ini Anda sudah paham? Kalau sudah paham simak uraian materi berikutnya.
2. Kemasyarakatan
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, masyarakatnya hidup berkelompok-kelompok dalam jumlah yang kecil. Tetapi hubungan antara kelompoknya sudah erat karena mereka harus bersama-sama menghadapi kondisi alam yang berat, sehingga sistem kemasyarakatan yang muncul pada masa tersebut sangat sederhana.
Tetapi pada masa bercocok tanam, kehidupan masyarakat yang sudah menetap semakin mengalami perkembangan dan hal inilah yang mendorong masyarakat untuk membentuk keteraturan hidup. Dan aturan hidup dapat terlaksana denga baik karena adanya seorang pemimpin yang mereka pilih atas dasar musyawarah.
Selanjutnya sistem kemasyarakatan terus mengalami perkembangan khususnya pada masa perundagian. Karena pada masa ini kehidupan masyarakat lebih kompleks. Masyarakat terbagi-bagi menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan bidang keahliannya.
Masing-masing kelompok memiliki aturan-aturan sendiri, dan di samping adanya aturan yang umum yang menjamin keharmonisan hubungan masing-masing kelompok. Aturan yang umum dibuat atas dasar kesepakatan bersama/musyawarah dalam kehidupan yang demokratis.
Dengan demikian sistem kemasyarakatan pada masa prasejarah di Indonesia telah dilandasi dengan musyawarah dan gotong royong.
Dari uraian materi di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau Anda sudah merasa paham, silahkan kerjakanlah tugas berikut ini :Buatlah contoh-contoh perilaku dari masyarakat prasejarah yang dilAndasi dengan musyawarah dan gotong-royong.
Tulislah contoh-contoh Anda pada tabel 2.6 berikut ini
Tabel 2.6 Contoh Perilaku Masyarakat Prasejarah
Setelah Anda mengisi tabel 2.6, maka salinlah jawaban Anda pada kertas selembar untuk ditunjukkan pada guru bina Anda pada saat tutorial dan selanjutnya Anda dapat menyimak kembali uraian materi berikutnya
3. Pertanian
Sistem pertanian yang dikenal oleh masyarakat prasejarah pada awalnya adalah perladangan/huma, yang hanya mengandalkan pada humus, sehingga bentuk pertanian ini wujudnya berpindah tempat.
Selanjutnya masyarakat mulai mengembangkan sistem persawahan, sehingga tidak lagi bergantung pada humus, dan berusaha mengatasi kesuburan tanahnya melalui pengolahan tanah, irigasi dan pemupukan.
Sistem persawahan dikenal oleh masyarakat prasejarah Indonesia pada masa Neolithikum, karena pada masa tersebut kehidupan masyarakat sudah menetap dan teratur.
Pada masa perundagian sistem persawahan mengalami perkembangan mengingat adanya spesialisasi/pembagian tugas berdasarkan keahliannya. Sehingga masyarakat prasejarah semakin mahir dalam persawahan.
Demikianlah uraian materi tentang corak pertanian yang dikenal oleh masyarakat prasejarah, untuk selanjutnya dapat Anda simak kembali corak kehidupan masyarakat yang lain seperti pada uraian materi berikut ini.
4. Pelayaran
Anda masih ingat tentang migrasi bangsa-bangsa ke Indonesia seperti yang Anda pelajari pada kegiatan belajar 3 modul 1? Dengan adanya perpindahan bangsa-bangsa dari daratan Asia ke Indonesia membuktikan bahwa sejak abad sebelum masehi, nenek moyang bangsa Indonesia sudah memiliki kemampuan berlayar. Kemampuan berlayar terus mengalami perkembangan, mengingat kondisi geografis Indonesia terdiri dari pulau-pulau sehingga untuk sampai kepada pulau yang lain harus menggunakan perahu. Jenis perahu yang dipergunakan adalah perahu bercadik. Untuk menambah wawasan Anda, tentang perahu bercadik, silahkan Anda amati gambar 27. berikut ini.
Gambar 27. Perahu Bercadik.
Setelah Anda melihat gambar 27, apakah Anda mengetahui cara pembuatan perahu bercadik?
Dari pembuatan perahu bercadik yang sederhana tetapi sudah mampu mengarungi samudera pada jaman prasejarah tersebut. Hal tersebut patutlah untuk dibanggakan kehebatan kemampuan berlayar nenek moyang bangsa Indonesia menjadi modal dasar dari kemampuan berdagang. Sehingga pada awal abad masehi bangsa Indonesia sudah turut ambil bagian dalam jalur perdagangan internasional.
Dengan uraian materi tersebut, apakah Anda sudah paham? Kalau sudah paham, dapat dilanjutkan kembali pada uraian materi selanjutnya.
5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sejak zaman Neolithikum, masyarakat Indonesia telah megenal pengetahuan yang tinggi, dimana masyarakat telah dapat memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran juga mengenal astronomi atau ilmu perbintangan sebagai petunjuk arah pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian.
Selain berkembangnya ilnu pengetahuan, teknologi juga dikenal oleh masyarakat prasejarah terutama pada zaman perundagian, yaitu teknologi pengecoran logam. Sehingga pada masa perundagian masyarakat sudah mampu menghasilkan alat-alat kehidupan yang terbuat dari logam, seperti yang Anda pelajari pada kegiatan belajar 1 modul 2 ini.
Demikianlah uraian tentang corak kehidupan masyarakat prasejarah dalam penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk selanjutnya Anda dapat mempelajari uraian materi berikutnya.
6. Kesenian
Kesenian dikenal oleh masyarakat prasejarah sejak zaman Mesolithikum yang dibuktikan dengan adanya lukisan-lukisan pada dinding-dinding gua. Untuk selanjutnya kesenian mengalami perkembangan yang pesat pada zaman Neolithikum, karena pada masa bercocok tanam terdapat waktu senggang dari menanam hingga panen. Yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyalurkan jiwa seni, dari seni membatik, gamelan bahkan wayang.
Dari uraian tersebut maka dapatlah disimpulkan bahwa seni membatik, gamelan dan wayang adalah kesenian asli bangsa Indonesia.
Untuk selanjutnya agar Anda mudah memahami seluruh corak kehidupan masyarakat prasejarah, maka simaklah bagan berikut ini
Bagan 1. Corak Kehidupan Masyarakat Prasejarah Indonesia
Setelah Anda menyimak bagan di atas, maka berarti uraian materi tentang ciri dan corak kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia telah usai Anda pelajari. Untuk selanjutnya Anda dapat mengerjakan latihan soal kegiatan belajar 2 ini.
________________________________________
Kebudayaan dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Masyarakat dapat bertahan hidup karena menghasilkan kebudayaan, kebudayaan itu ada karena dihasilkan oleh masyarakat. Dan melalui kebudayaanlah segala corak kehidupan masyarakat dapat diketahui.
Dengan demikian dari hasil-hasil kebudayaan material seperti yang Anda pelajari pada kegiatan belajar 1 dapat dikaji dan dipelajari corak kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia, seperti yang akan diuraikan pada uraian materi berikut ini.
1. Sistem kepercayaan
Sistem kepercayaan masyarakat prasejarah diperkirakan mulai tumbuh pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut atau disebut dengan masa bermukim dan berladang yang terjadi pada zaman Mesolithikum.
Mengenai bukti adanya kepercayaan pada zaman Mesolithikum dapat Anda tulis pada titik-titik di bawah ini.
Buktinya adalah ....
Bukti lain yang turut memperkuat adanya corak kepercayaan pada zaman prasejarah adalah ditemukannya lukisan perahu pada nekara. Lukisan tersebut menggambarkan kendaraan yang akan mengantarkan roh nenek moyang ke alam baka. Hal ini berarti pada masa tersebut sudah mempercayai akan adanya roh.
Kepercayaan terhadap roh terus berkembang pada zaman prasejarah hal ini tampak dari kompleksnya bentuk-bentuk upacara penghormatan, penguburan dan pemberian sesajen. Kepercayaan terhadap roh inilah dikenal dengan istilah Aninisme.
Aninisme berasal dari kata Anima artinya jiwa atau roh, sedangkan isme artinya paham atau kepercayaan. Di samping adanya kepercayaan animisme, juga terdapat kepercayaan Dinamisme.
Dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Contohnya yaitu kapak yang dibuat dari batu chalcedon (batu indah) dianggap memiliki kekuatan. Untuk contoh-contoh yang lain dapat Anda baca kembali uraian materi kegiatan belajar 1 modul ini. Dengan demikian kepercayaan masyarakat prasejarah adalah Animisme dan Dinamisme. Apakah dari uraian ini Anda sudah paham? Kalau sudah paham simak uraian materi berikutnya.
2. Kemasyarakatan
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, masyarakatnya hidup berkelompok-kelompok dalam jumlah yang kecil. Tetapi hubungan antara kelompoknya sudah erat karena mereka harus bersama-sama menghadapi kondisi alam yang berat, sehingga sistem kemasyarakatan yang muncul pada masa tersebut sangat sederhana.
Tetapi pada masa bercocok tanam, kehidupan masyarakat yang sudah menetap semakin mengalami perkembangan dan hal inilah yang mendorong masyarakat untuk membentuk keteraturan hidup. Dan aturan hidup dapat terlaksana denga baik karena adanya seorang pemimpin yang mereka pilih atas dasar musyawarah.
Selanjutnya sistem kemasyarakatan terus mengalami perkembangan khususnya pada masa perundagian. Karena pada masa ini kehidupan masyarakat lebih kompleks. Masyarakat terbagi-bagi menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan bidang keahliannya.
Masing-masing kelompok memiliki aturan-aturan sendiri, dan di samping adanya aturan yang umum yang menjamin keharmonisan hubungan masing-masing kelompok. Aturan yang umum dibuat atas dasar kesepakatan bersama/musyawarah dalam kehidupan yang demokratis.
Dengan demikian sistem kemasyarakatan pada masa prasejarah di Indonesia telah dilandasi dengan musyawarah dan gotong royong.
Dari uraian materi di atas, apakah Anda sudah memahami? Kalau Anda sudah merasa paham, silahkan kerjakanlah tugas berikut ini :Buatlah contoh-contoh perilaku dari masyarakat prasejarah yang dilAndasi dengan musyawarah dan gotong-royong.
Tulislah contoh-contoh Anda pada tabel 2.6 berikut ini
Tabel 2.6 Contoh Perilaku Masyarakat Prasejarah
Setelah Anda mengisi tabel 2.6, maka salinlah jawaban Anda pada kertas selembar untuk ditunjukkan pada guru bina Anda pada saat tutorial dan selanjutnya Anda dapat menyimak kembali uraian materi berikutnya
3. Pertanian
Sistem pertanian yang dikenal oleh masyarakat prasejarah pada awalnya adalah perladangan/huma, yang hanya mengandalkan pada humus, sehingga bentuk pertanian ini wujudnya berpindah tempat.
Selanjutnya masyarakat mulai mengembangkan sistem persawahan, sehingga tidak lagi bergantung pada humus, dan berusaha mengatasi kesuburan tanahnya melalui pengolahan tanah, irigasi dan pemupukan.
Sistem persawahan dikenal oleh masyarakat prasejarah Indonesia pada masa Neolithikum, karena pada masa tersebut kehidupan masyarakat sudah menetap dan teratur.
Pada masa perundagian sistem persawahan mengalami perkembangan mengingat adanya spesialisasi/pembagian tugas berdasarkan keahliannya. Sehingga masyarakat prasejarah semakin mahir dalam persawahan.
Demikianlah uraian materi tentang corak pertanian yang dikenal oleh masyarakat prasejarah, untuk selanjutnya dapat Anda simak kembali corak kehidupan masyarakat yang lain seperti pada uraian materi berikut ini.
4. Pelayaran
Anda masih ingat tentang migrasi bangsa-bangsa ke Indonesia seperti yang Anda pelajari pada kegiatan belajar 3 modul 1? Dengan adanya perpindahan bangsa-bangsa dari daratan Asia ke Indonesia membuktikan bahwa sejak abad sebelum masehi, nenek moyang bangsa Indonesia sudah memiliki kemampuan berlayar. Kemampuan berlayar terus mengalami perkembangan, mengingat kondisi geografis Indonesia terdiri dari pulau-pulau sehingga untuk sampai kepada pulau yang lain harus menggunakan perahu. Jenis perahu yang dipergunakan adalah perahu bercadik. Untuk menambah wawasan Anda, tentang perahu bercadik, silahkan Anda amati gambar 27. berikut ini.
Gambar 27. Perahu Bercadik.
Setelah Anda melihat gambar 27, apakah Anda mengetahui cara pembuatan perahu bercadik?
Dari pembuatan perahu bercadik yang sederhana tetapi sudah mampu mengarungi samudera pada jaman prasejarah tersebut. Hal tersebut patutlah untuk dibanggakan kehebatan kemampuan berlayar nenek moyang bangsa Indonesia menjadi modal dasar dari kemampuan berdagang. Sehingga pada awal abad masehi bangsa Indonesia sudah turut ambil bagian dalam jalur perdagangan internasional.
Dengan uraian materi tersebut, apakah Anda sudah paham? Kalau sudah paham, dapat dilanjutkan kembali pada uraian materi selanjutnya.
5. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Sejak zaman Neolithikum, masyarakat Indonesia telah megenal pengetahuan yang tinggi, dimana masyarakat telah dapat memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran juga mengenal astronomi atau ilmu perbintangan sebagai petunjuk arah pelayaran atau sebagai petunjuk waktu dalam bidang pertanian.
Selain berkembangnya ilnu pengetahuan, teknologi juga dikenal oleh masyarakat prasejarah terutama pada zaman perundagian, yaitu teknologi pengecoran logam. Sehingga pada masa perundagian masyarakat sudah mampu menghasilkan alat-alat kehidupan yang terbuat dari logam, seperti yang Anda pelajari pada kegiatan belajar 1 modul 2 ini.
Demikianlah uraian tentang corak kehidupan masyarakat prasejarah dalam penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk selanjutnya Anda dapat mempelajari uraian materi berikutnya.
6. Kesenian
Kesenian dikenal oleh masyarakat prasejarah sejak zaman Mesolithikum yang dibuktikan dengan adanya lukisan-lukisan pada dinding-dinding gua. Untuk selanjutnya kesenian mengalami perkembangan yang pesat pada zaman Neolithikum, karena pada masa bercocok tanam terdapat waktu senggang dari menanam hingga panen. Yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyalurkan jiwa seni, dari seni membatik, gamelan bahkan wayang.
Dari uraian tersebut maka dapatlah disimpulkan bahwa seni membatik, gamelan dan wayang adalah kesenian asli bangsa Indonesia.
Untuk selanjutnya agar Anda mudah memahami seluruh corak kehidupan masyarakat prasejarah, maka simaklah bagan berikut ini
Bagan 1. Corak Kehidupan Masyarakat Prasejarah Indonesia
Setelah Anda menyimak bagan di atas, maka berarti uraian materi tentang ciri dan corak kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia telah usai Anda pelajari. Untuk selanjutnya Anda dapat mengerjakan latihan soal kegiatan belajar 2 ini.
________________________________________
Sabtu, 18 Desember 2010
TUGAS BAHASA INGGRIS
TUGAS BAHASA INGGRIS
ENGLISH IMPORTANT
DISUSUN OLEH :
RIMA GLORIA RISQY
ILMU PERPUSTAKAAN
Is English Important?
Human being is live creature who needs each other. One can not live by his/her self in this world. He/She needs many things that he/she can not find it out by his/her own. He works and does anything he can do for another. And at the same time, he needs their works.
In order to cover his/her needs, human makes communication among them. This is what in which language plays its role. Without language, people can not understand each other about their needs. Language is such a tool by which people express what they think about and feel of. Feels of love, fear, sadness, and so on could be affectively expressed in language form.
There are millions or billions of languages in this world. One community commonly has its language that is different with the others. In Lombok island for example, there are more than one hundred language that are used by the citizen. Some of them are seems to be similar, and some others are completely different. In this case, one who master more languages, he could make vaster communication. Contrary, if he understands only one language, he can only make direct communication with the user community of the language. Or we can say, the more languages one can understand, the more he can make communication. This is in one hand.
In other hand, one thinks that it is impossible to master too many languages in this world. To make communication wider someone could choose to master some language whose user community is in great quantity. One of these kinds of language in the world is English. Nowadays, English is the first international language.
English is used in many purposes and fields. In fields of commerce or trade, English language is used extensively, like what we can see on the labels of almost products. Many companies or employers now held test of English for the employees. This will help them to know their proficiency of English, since English is a need.
So it is in the field of science. Many books are written in English language. For the writers, they hope that their books could be accessed widely by many readers, so that they can get much more royalty from every sold book. This is like what we can see in the novel “Harry Potter”. The sale of the novel brings the writer to be one of the richest women in America .
In the case of Islamic studies, students now are not demanded to master Arabic language only, but also English language. Because, so many books in Islamic studies were written in English, besides Arabic. Since Islamic studies had been interesting the Western scientists long-long time ago, they put their thoughts about Islam and its sciences in written form excessively using English language. So, students who wish to understand Islamic sciences comprehensively, they have to involve both Moslems scholar thoughts and those of Orientalists. It means that they must master either Arabic language or English. That is why, the higher educations of Islamic studies now need such good proficiency of English. Based on this case, every university held test of English for the candidates of after graduate students.
This is what to say that we need the other for our purposes. We need language to deliver or inform about our needs. Since English is an international language, English is our need.
ENGLISH IMPORTANT
DISUSUN OLEH :
RIMA GLORIA RISQY
ILMU PERPUSTAKAAN
Is English Important?
Human being is live creature who needs each other. One can not live by his/her self in this world. He/She needs many things that he/she can not find it out by his/her own. He works and does anything he can do for another. And at the same time, he needs their works.
In order to cover his/her needs, human makes communication among them. This is what in which language plays its role. Without language, people can not understand each other about their needs. Language is such a tool by which people express what they think about and feel of. Feels of love, fear, sadness, and so on could be affectively expressed in language form.
There are millions or billions of languages in this world. One community commonly has its language that is different with the others. In Lombok island for example, there are more than one hundred language that are used by the citizen. Some of them are seems to be similar, and some others are completely different. In this case, one who master more languages, he could make vaster communication. Contrary, if he understands only one language, he can only make direct communication with the user community of the language. Or we can say, the more languages one can understand, the more he can make communication. This is in one hand.
In other hand, one thinks that it is impossible to master too many languages in this world. To make communication wider someone could choose to master some language whose user community is in great quantity. One of these kinds of language in the world is English. Nowadays, English is the first international language.
English is used in many purposes and fields. In fields of commerce or trade, English language is used extensively, like what we can see on the labels of almost products. Many companies or employers now held test of English for the employees. This will help them to know their proficiency of English, since English is a need.
So it is in the field of science. Many books are written in English language. For the writers, they hope that their books could be accessed widely by many readers, so that they can get much more royalty from every sold book. This is like what we can see in the novel “Harry Potter”. The sale of the novel brings the writer to be one of the richest women in America .
In the case of Islamic studies, students now are not demanded to master Arabic language only, but also English language. Because, so many books in Islamic studies were written in English, besides Arabic. Since Islamic studies had been interesting the Western scientists long-long time ago, they put their thoughts about Islam and its sciences in written form excessively using English language. So, students who wish to understand Islamic sciences comprehensively, they have to involve both Moslems scholar thoughts and those of Orientalists. It means that they must master either Arabic language or English. That is why, the higher educations of Islamic studies now need such good proficiency of English. Based on this case, every university held test of English for the candidates of after graduate students.
This is what to say that we need the other for our purposes. We need language to deliver or inform about our needs. Since English is an international language, English is our need.
Tugas UTS Ilmu Al-Qur’an
Nama : Danang Nur Cahyadi
Semester : 4b
Nim : 108025000044
Tugas UTS Ilmu Al-Qur’an
Ilmu Perpustakaan & Informasi
Adab & Humaniora
Jawab :
1. Pada masa sekarang penafsiran terhadap Al-Qur,an mengalami perkembangan yang signifikan padahal pada masa Nabi saw, persoalan penafsiran terhadap Al-Qur’an belum menimbulkan banyak masalah karna Nabi saw sendiri tampil sebagai penafsir tunggal dengan otoritas tertinggi yang langsung dari Allah SWT. Sangat berbeda setelah Nabi dan para sahabat wafat sampai sekarang karena pada masa sekarang banyak para ahli yang menafsirkan Al-Quran dengan penafsiran yang berbeda dan campur tangan orang barat juga. Hal seperti inilah yang membuat penafsiran Al Qur’an mengalami perkembangan yang signifikan. Ada pun penafsiran tentang Al Qur’an dari para ahli tafsir :
A) Para ahli hadis, mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an hanya berdasarkan riwayat-riwayat yang bersumber dari pendahulunya yaitu para sahabat dan tabi’in. Sehingga mereka fanatik dan hanya berpegang teguh pada riwayat-riwayat pendahulunya tanpa mau mengkaji berdasarkan ayat-ayat Allah swt.
b) Para teolog sebenarnya dipengaruhi oleh bermacam-macam pendapat kemazhaban sehingga mewarnai penafsiran mereka, dan dalam menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an. Perbedaan pendapat setiap mazhab disebabkan oleh perbedaan pijakan metode dan teori ilmiah, atau hal-hal yang lain seperti taklid buta dan fanatik kesukuan. Sehingga penafsiran mereka dan metode kajiannya jauh dari harapan sebagai tafsir dan tak layak disebut penafsiran, yang tepat disebut sebagai “penyesuaian”.
c) Para filosuf juga tidak jauh berbeda dengan para mufassir dari kalangan para teolog. Mereka berusaha menyesuaikan ayat-ayat Al-Qur’an dengan dasar-dasar filsafat Yunani kuno (yang terbagi ke dalam empat cabang: mate¬matika, natural rains, ketuhanan dan hal-hal yang praktis termasuk hukum). Terutama filosuf yang beraliran Paripatetik (Al-Masyaiyun), mereka menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal-hal yang metafisik, ayat-ayat penciptaan, peristiwa-peristiwa langit dan bumi, ayat-ayat tentang alam Barzah dan hari kiamat. Sehingga tidak sedikit filosuf muslim yang terperangkap dengan sistem filsafat tersebut, mereka meninggalkan kajian-kajian yang berkenaan dengan astronomi universal maupun parsial, keteraturan unsur-unsur alam, hukum-hukum astronomi dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
d) Kelompok sufi, mereka disibukkan oleh aspek-aspek esoterik penciptaan, memperhatilcan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan kejiwaan tanpa memperhatikan alam nyata dan ayat-ayat yang yang berkaitan dengan astronomi. Kajian mereka hanya menfokuskan pada takwil, meninggalkan Asbabun nuzul ayat-ayat Al-Qur’an. Pola mereka inilah yang membawa manusia pada pola takwil dan penafsiran dalam ekspresi puitis, menggunakan sesuatu sebagai dalil untuk membenarkan sesuatu yang lain. Begitu buruknya kondisi ini sehingga ayat-ayat Al-Qur’an hanya ditafsirkan berdasarkan jumlah angka dan huruf; surat-suratnya dibagi berdasarkan cahaya dan kegelapan, kemudian mereka menafsirkannya berdasarkan pembagian itu. Sebagaimana dimaklumi bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk memberi petunjuk pada kaum sufi, tidak hanya diperuntukkan untuk mengetahui jumlah nilai angka surat-surat Al-Qur’an. Ilmu-ilmu Al-Qur’an bukan untuk disesuaikan dengan perhitungan astrologi yang dibuat oleh ahli nujum yang mengutip dari Yunani dan lainnya, sesudah buku-buku mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Akibat terpengaruh oleh teori-teori yang anti Islam, mereka mempropagandakan bahwa ilmu-ilmu Islam tidak mungkin bertentangan dengan metode yang ditetapkan oleh sains; tidak ada satu pun wujud, kecuali material dan inderawi. Karena itu ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak sesuai atau bertentangan dengan sains, seperti Arasy, Kursi, Lawh dan Al-Qalam, semuanya harus ditakwil.
2. Pada pembahasan Ulumul Qur’an ada seputar asbab an nuzul yang di asumsikan sebagai aspek historisitas Al Qur’an ada juga pemahaman tentang lokalitas peristiwa yang ada dalam Al Qur’an sementara Al Qur’an mengandung universalitas makna juga.Memang benar kalau Al Qur’an memiliki aspek historisitas, lokalitas peristiwa dan mengandung universalitas makna karena Al Qur'an itu sendiri yang telah dibuktikan validitasnya merupakan dalil dan referensi yang paling akurat untuk membuktikan persoalan ini. Dan setiap orang yang secara global saja menelaah kitab suci Ilahi ini, akan mengetahui dengan jelas bahwa dakwah Al-Qur'an itu bersifat universal, tidak khusus untuk suatu kaum atau suatu bahasa saja. Bahkan serta menegaskan Al-Qur'an telah menekankan melalui satu ayatnya ihwal risalah Nabi Muhammad saw.sebagai misi dunia untuk segenap manusia yang mendengarnya. Dari sisi lain, dengan nada kecaman, Al-Qur'an berbicara kepada pengikut agama-agama yang lain dengan ungkapan ahlulkitab dan membuktikan kebenaran risalah Nabi saw atas mereka. Al-Qur'an juga memandang bahwa tujuan penurunannya kepada Nabi saw adalah untuk mengangkat Islam dan mengunggulkannya di atas seluruh agama. Dengan mempelajari ayat-ayat tersebut, tidak ada lagi keraguan akan universalitas dakwah Al-Qur'an dan Islam yang suci ini. Masih dalam hubungan ini, universalitas dan lokalitas ajaran agama diperkenalkan oleh al-Qur’an. Contohnya, ajaran sholat memiliki aspek universal dan lokal. Sebagai ajaran yang menjaga kontuinitas kesadaran hubungan antara manusia dan Khaliknya, sholat atau sembahyang bersifat universal. Buktinya, semua agama yang dikenal manusia mengajarkan sembahyang. Akan tetapi, tata cara (kaifiyat) sembahyang adalah sesuatu yang bercorak local, tindak universal. Karena itu, sholat umat pengikut Nabi Muhammad SAW berbeda dengan sembahyang pengikut Nabi-Nabi yang lain. Tidak mungkin menjadikan semua manusia sembahyang menurut tata cara yang diajarkan oleh satu orang Nabi.Universalitas dan lokalitas ajaran agama dengan demikian, tidak harus dipertentangkan, apalagi dipandang bahwa ajaran yang satu membatalkan ajaran yang lain. Universalitas dan lokalitas ajaran agama hanya merupakan penegasan bahwa ada bagian dari ajaran agama bisa dianut oleh sebanyak-banyaknya manusia pada setiap ruang dan waktu (universal), di samping ada yang tidak bisa demikian (lokalitas). Universalitas dan lokalitas agama, karena itu seharusnya menumbuhkan kearifan yang bisa dimulai dari sikap toleransi dan kelapangan dadaJuga, kalau al-Qur’an dicermati dan dikaji, maka kitab suci tersebut menggiring penganutnya kepada sikap inklusif di dalam beragama.
3. Pada umumnya ayat-ayat makkiyah bercorak ringkas dan puitis karena ayat makkiyah adalah ayat yang turun di makkah.sepertinya ayat ini lebih manitik beratkan pada tempat turunya ayat itu. Dan lebih menitikberatkan kepada orang yang dituju oleh dialog ayat Al-Qur’an. Ayat Makiyah adalah dialog kepada penduduk Makkah. Ayat Makiyah adalah ayat yang turun sebelum periode Hijrah, sekalipun turun di luar Makkah. Ayat-ayat Makiyah memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh ayat Madaniyah dari segi gaya bahasa dan tema sebagai berikut. Pertama, dalam segi gaya bahasa, sebagian besar ayat-ayat Makiyah memiliki gaya bahasa dan penyampaian yang keras sebagian besar ayat Makiyah memiliki seruan yang ringkas dan argumen yang kuat, dalam segi tema, sebagian ayat-ayat Makiyah berisi pentapan ajaran tauhid dan akidah yang murni, terutama menyangkut tauhid uluhiyah dan keimanan terhadap hari kebangkitan ayat makkiyah juga berisi seruan pada orang-orang kafir penduduk Makkah yang pada masaa itu yang mayoritas panduduknya masih berdiri di atas agama kemusyrikan dan karena pada waktu zaman Nabi saw banyak orang-orang arab yang masih bodoh dan belum bisa membaca dan menulis apalagi untuk menafsirkan Al-Qur’an . dan dengan turunya ayat-ayat makkiyah yang ringkas dan puitis itu akan memudahkan orang-orang dalam memahami, menghafal dan menafsirkan Al-Qur’an. Dan dengan demikian mereka tidak merasa terbebani karena pada dasarnya ajaran agama islam iyalah ajaran yang tidak membuat kaum / umatnya merasa terbebaniatau merasa sulit untuk memahami dan juga untuk mengamalkan apa-apa yang telah diperintahkan Allah SWT didalam Al-Qur’an sehingga mereka akan merasa mudah untuk mengamalkan dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya yaitu surat Al-Alaq yang artinya bacalah. Dan di dalam surat Al-Alaq di terangkan bahwa membaca dan menulis adalah dasarnya ilmupengetahuan dengan demikian orang-orang yang sudah bisa membaca dan menulis akan lebih mudah untuk memahami dan mengerti isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan lebih mudah untuk mengamalkannya dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari.jadi kesimpulannya adalah Makiyah dan Madaniyah termasuk bagian bahasan ilmu-ilmu Al-Qur’an yang sangat penting. Dari situ akan dapat ditemui beberapa hal kegunaan mengetahuinya, di antaranya: pertama, keindahan (balaghoh) Al-Qur’an semakin tampak, karena susunan bahsa yang dipakai sesuai dengan kenyataan kepribadian lawan bicaranya. Kedua, pembentukan hukum Al-Qur’an ditempatkan pada proporsi yang tepat secara berjenjang tergantung kesiapan umat. Ketiga, mendidik dan mengarahkan para da’i ke jalan Allah agar mengikuti jalur Al-Qur’an dalam berbicara dan tema pembicaraannya yang sesuai dengan orang yang akan disampaikan kepadanya dakwah Islam, dan keempat, pemilihan antara nasikh dan mansukh, ketika terdapat dua ayat Madaniyah dan Makiyah yang telah memenuhi persyaratannya, ketika terdapat masalah terkait antara ayat-ayat Madaniyah dengan ayat-ayat Makiyah.
Semester : 4b
Nim : 108025000044
Tugas UTS Ilmu Al-Qur’an
Ilmu Perpustakaan & Informasi
Adab & Humaniora
Jawab :
1. Pada masa sekarang penafsiran terhadap Al-Qur,an mengalami perkembangan yang signifikan padahal pada masa Nabi saw, persoalan penafsiran terhadap Al-Qur’an belum menimbulkan banyak masalah karna Nabi saw sendiri tampil sebagai penafsir tunggal dengan otoritas tertinggi yang langsung dari Allah SWT. Sangat berbeda setelah Nabi dan para sahabat wafat sampai sekarang karena pada masa sekarang banyak para ahli yang menafsirkan Al-Quran dengan penafsiran yang berbeda dan campur tangan orang barat juga. Hal seperti inilah yang membuat penafsiran Al Qur’an mengalami perkembangan yang signifikan. Ada pun penafsiran tentang Al Qur’an dari para ahli tafsir :
A) Para ahli hadis, mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an hanya berdasarkan riwayat-riwayat yang bersumber dari pendahulunya yaitu para sahabat dan tabi’in. Sehingga mereka fanatik dan hanya berpegang teguh pada riwayat-riwayat pendahulunya tanpa mau mengkaji berdasarkan ayat-ayat Allah swt.
b) Para teolog sebenarnya dipengaruhi oleh bermacam-macam pendapat kemazhaban sehingga mewarnai penafsiran mereka, dan dalam menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an. Perbedaan pendapat setiap mazhab disebabkan oleh perbedaan pijakan metode dan teori ilmiah, atau hal-hal yang lain seperti taklid buta dan fanatik kesukuan. Sehingga penafsiran mereka dan metode kajiannya jauh dari harapan sebagai tafsir dan tak layak disebut penafsiran, yang tepat disebut sebagai “penyesuaian”.
c) Para filosuf juga tidak jauh berbeda dengan para mufassir dari kalangan para teolog. Mereka berusaha menyesuaikan ayat-ayat Al-Qur’an dengan dasar-dasar filsafat Yunani kuno (yang terbagi ke dalam empat cabang: mate¬matika, natural rains, ketuhanan dan hal-hal yang praktis termasuk hukum). Terutama filosuf yang beraliran Paripatetik (Al-Masyaiyun), mereka menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal-hal yang metafisik, ayat-ayat penciptaan, peristiwa-peristiwa langit dan bumi, ayat-ayat tentang alam Barzah dan hari kiamat. Sehingga tidak sedikit filosuf muslim yang terperangkap dengan sistem filsafat tersebut, mereka meninggalkan kajian-kajian yang berkenaan dengan astronomi universal maupun parsial, keteraturan unsur-unsur alam, hukum-hukum astronomi dan unsur-unsur lainnya yang berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
d) Kelompok sufi, mereka disibukkan oleh aspek-aspek esoterik penciptaan, memperhatilcan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan kejiwaan tanpa memperhatikan alam nyata dan ayat-ayat yang yang berkaitan dengan astronomi. Kajian mereka hanya menfokuskan pada takwil, meninggalkan Asbabun nuzul ayat-ayat Al-Qur’an. Pola mereka inilah yang membawa manusia pada pola takwil dan penafsiran dalam ekspresi puitis, menggunakan sesuatu sebagai dalil untuk membenarkan sesuatu yang lain. Begitu buruknya kondisi ini sehingga ayat-ayat Al-Qur’an hanya ditafsirkan berdasarkan jumlah angka dan huruf; surat-suratnya dibagi berdasarkan cahaya dan kegelapan, kemudian mereka menafsirkannya berdasarkan pembagian itu. Sebagaimana dimaklumi bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk memberi petunjuk pada kaum sufi, tidak hanya diperuntukkan untuk mengetahui jumlah nilai angka surat-surat Al-Qur’an. Ilmu-ilmu Al-Qur’an bukan untuk disesuaikan dengan perhitungan astrologi yang dibuat oleh ahli nujum yang mengutip dari Yunani dan lainnya, sesudah buku-buku mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Akibat terpengaruh oleh teori-teori yang anti Islam, mereka mempropagandakan bahwa ilmu-ilmu Islam tidak mungkin bertentangan dengan metode yang ditetapkan oleh sains; tidak ada satu pun wujud, kecuali material dan inderawi. Karena itu ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak sesuai atau bertentangan dengan sains, seperti Arasy, Kursi, Lawh dan Al-Qalam, semuanya harus ditakwil.
2. Pada pembahasan Ulumul Qur’an ada seputar asbab an nuzul yang di asumsikan sebagai aspek historisitas Al Qur’an ada juga pemahaman tentang lokalitas peristiwa yang ada dalam Al Qur’an sementara Al Qur’an mengandung universalitas makna juga.Memang benar kalau Al Qur’an memiliki aspek historisitas, lokalitas peristiwa dan mengandung universalitas makna karena Al Qur'an itu sendiri yang telah dibuktikan validitasnya merupakan dalil dan referensi yang paling akurat untuk membuktikan persoalan ini. Dan setiap orang yang secara global saja menelaah kitab suci Ilahi ini, akan mengetahui dengan jelas bahwa dakwah Al-Qur'an itu bersifat universal, tidak khusus untuk suatu kaum atau suatu bahasa saja. Bahkan serta menegaskan Al-Qur'an telah menekankan melalui satu ayatnya ihwal risalah Nabi Muhammad saw.sebagai misi dunia untuk segenap manusia yang mendengarnya. Dari sisi lain, dengan nada kecaman, Al-Qur'an berbicara kepada pengikut agama-agama yang lain dengan ungkapan ahlulkitab dan membuktikan kebenaran risalah Nabi saw atas mereka. Al-Qur'an juga memandang bahwa tujuan penurunannya kepada Nabi saw adalah untuk mengangkat Islam dan mengunggulkannya di atas seluruh agama. Dengan mempelajari ayat-ayat tersebut, tidak ada lagi keraguan akan universalitas dakwah Al-Qur'an dan Islam yang suci ini. Masih dalam hubungan ini, universalitas dan lokalitas ajaran agama diperkenalkan oleh al-Qur’an. Contohnya, ajaran sholat memiliki aspek universal dan lokal. Sebagai ajaran yang menjaga kontuinitas kesadaran hubungan antara manusia dan Khaliknya, sholat atau sembahyang bersifat universal. Buktinya, semua agama yang dikenal manusia mengajarkan sembahyang. Akan tetapi, tata cara (kaifiyat) sembahyang adalah sesuatu yang bercorak local, tindak universal. Karena itu, sholat umat pengikut Nabi Muhammad SAW berbeda dengan sembahyang pengikut Nabi-Nabi yang lain. Tidak mungkin menjadikan semua manusia sembahyang menurut tata cara yang diajarkan oleh satu orang Nabi.Universalitas dan lokalitas ajaran agama dengan demikian, tidak harus dipertentangkan, apalagi dipandang bahwa ajaran yang satu membatalkan ajaran yang lain. Universalitas dan lokalitas ajaran agama hanya merupakan penegasan bahwa ada bagian dari ajaran agama bisa dianut oleh sebanyak-banyaknya manusia pada setiap ruang dan waktu (universal), di samping ada yang tidak bisa demikian (lokalitas). Universalitas dan lokalitas agama, karena itu seharusnya menumbuhkan kearifan yang bisa dimulai dari sikap toleransi dan kelapangan dadaJuga, kalau al-Qur’an dicermati dan dikaji, maka kitab suci tersebut menggiring penganutnya kepada sikap inklusif di dalam beragama.
3. Pada umumnya ayat-ayat makkiyah bercorak ringkas dan puitis karena ayat makkiyah adalah ayat yang turun di makkah.sepertinya ayat ini lebih manitik beratkan pada tempat turunya ayat itu. Dan lebih menitikberatkan kepada orang yang dituju oleh dialog ayat Al-Qur’an. Ayat Makiyah adalah dialog kepada penduduk Makkah. Ayat Makiyah adalah ayat yang turun sebelum periode Hijrah, sekalipun turun di luar Makkah. Ayat-ayat Makiyah memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh ayat Madaniyah dari segi gaya bahasa dan tema sebagai berikut. Pertama, dalam segi gaya bahasa, sebagian besar ayat-ayat Makiyah memiliki gaya bahasa dan penyampaian yang keras sebagian besar ayat Makiyah memiliki seruan yang ringkas dan argumen yang kuat, dalam segi tema, sebagian ayat-ayat Makiyah berisi pentapan ajaran tauhid dan akidah yang murni, terutama menyangkut tauhid uluhiyah dan keimanan terhadap hari kebangkitan ayat makkiyah juga berisi seruan pada orang-orang kafir penduduk Makkah yang pada masaa itu yang mayoritas panduduknya masih berdiri di atas agama kemusyrikan dan karena pada waktu zaman Nabi saw banyak orang-orang arab yang masih bodoh dan belum bisa membaca dan menulis apalagi untuk menafsirkan Al-Qur’an . dan dengan turunya ayat-ayat makkiyah yang ringkas dan puitis itu akan memudahkan orang-orang dalam memahami, menghafal dan menafsirkan Al-Qur’an. Dan dengan demikian mereka tidak merasa terbebani karena pada dasarnya ajaran agama islam iyalah ajaran yang tidak membuat kaum / umatnya merasa terbebaniatau merasa sulit untuk memahami dan juga untuk mengamalkan apa-apa yang telah diperintahkan Allah SWT didalam Al-Qur’an sehingga mereka akan merasa mudah untuk mengamalkan dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya yaitu surat Al-Alaq yang artinya bacalah. Dan di dalam surat Al-Alaq di terangkan bahwa membaca dan menulis adalah dasarnya ilmupengetahuan dengan demikian orang-orang yang sudah bisa membaca dan menulis akan lebih mudah untuk memahami dan mengerti isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan lebih mudah untuk mengamalkannya dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari.jadi kesimpulannya adalah Makiyah dan Madaniyah termasuk bagian bahasan ilmu-ilmu Al-Qur’an yang sangat penting. Dari situ akan dapat ditemui beberapa hal kegunaan mengetahuinya, di antaranya: pertama, keindahan (balaghoh) Al-Qur’an semakin tampak, karena susunan bahsa yang dipakai sesuai dengan kenyataan kepribadian lawan bicaranya. Kedua, pembentukan hukum Al-Qur’an ditempatkan pada proporsi yang tepat secara berjenjang tergantung kesiapan umat. Ketiga, mendidik dan mengarahkan para da’i ke jalan Allah agar mengikuti jalur Al-Qur’an dalam berbicara dan tema pembicaraannya yang sesuai dengan orang yang akan disampaikan kepadanya dakwah Islam, dan keempat, pemilihan antara nasikh dan mansukh, ketika terdapat dua ayat Madaniyah dan Makiyah yang telah memenuhi persyaratannya, ketika terdapat masalah terkait antara ayat-ayat Madaniyah dengan ayat-ayat Makiyah.
MUSTAFA KEMAL ATTATURK
MUSTAFA KEMAL ATTATURK
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kehancuran Imperium Turki Usmani pada tahun 1918 setelah kekalahan perang yang dideritanya bersama Jerman dan Austria adalah akhir dari sejarah masyarakat Islam imperial. Klimaks dari perjalanan sejarah imperium Islam ini kemudian menjadi awal bagi perkembangan baru masyarakat Islam abad ke-19 di Turki. Tumbuhnya semangat nasionalisme dan kebangsaan masyarakat Turki serta upaya mereka untuk bangkit dari keterpurukan situasi negara yang telah hancur akhirnya menjadi tonggak berdirinya negara Republik Turki.
Mustafa Kemal Pasha, yang kemudian bergelar Ataturk (Bapak Bangsa Turki), adalah tokoh pendiri negara sekuler Republik Turki. Di bawah rezim pemerintahannya Republik Turki pernah dicap sebagai negara sekuler anti Islam. Bahkan, dengan sikap diktatorial rezim pemerintahannya, ia berhasil mengomando pengikutnya di dalam parlemen pemerintahan Turki untuk menghapus lembaga kesultanan dan kekhalifahan Islam. Selain tindakan radikal yang ia lakukan tadi, dengan serentetan program pembaruan (sekularisasi) Turki yang ia lakukan sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1938, Mustafa Kemal juga dianggap telah mencerabut akar dogmatisme Islam dari masyarakat Turki, dan menjauhkan nilai-nilai Islam yang telah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Turki tersebut dengan dalih modernitas dan pembaruan.
B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan pembahasan, penulis membuat rumusan masalah dalam beberapa bagian. Pertama, berhubungan matakuliah ini mengenai tokoh, jadi penulis akan menguraikan biografi sang tokoh Mustafa Kemal Attaturk. Kedua, mengenai pemikiran politik sang inspirator dunia islam Mustafa Kemal Attaturk. Ketiga, kontroversi terhadap pemikiran Mustafa Kemal Attaturk.
Makalah ini mencoba mengurai secara lugas sosok tokoh bernama Mustafa Kemal Ataturk, baik dari segi pemikirannya dalam pembaruan Turki setelah keruntuhan Imperium Turki Usmani, maupun mengenai gerakan politiknya yang akhirnya menghantarkannya menjadi Presiden Republik Turki sepanjang hidup.
Pembahasan
A. Biografi Mustafa Kemal Attaturk
Mustafa Kemal Ataturk lahir di Salonika pada tahun 1881. Orang tuanya bernama Ali Riza seorang pegawai biasa di salah satu kantor pemerintah di kota itu, sedangkan ibunya bernama Zubayde, seorang wanita yang amat dalam perasaan keagamaannya. Ali Riza meninggal dunia saat Mustafa Kemal berusia tujuh tahun. Ia kemudian diasuh oleh ibunya.
Riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai sejak tahun 1893 ketika ia memasuki sekolah Rushdiye (sekolah menengah militer Turki). Pada tahun 1895 ia masuk ke akademi militer di kota Monastir dan pada 13 Maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul sebagai kadet pasukan infanteri. Tahun 1902 ia ditunjuk menjadi salah satu staf pengajar dan pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat kapten.
Kehidupan Mustafa Kemal sejak 1905 sampai dengan 1918 diwarnai dengan perjuangan untuk mewujudkan identitas kebangsaan Turki. Sebagai pejabat militer di dalam imperium Turki Usmani saat itu, ia mendirikan sebuah organisasi yang bernama Masyarakat Tanah Air (Fatherland Society). Ia juga bergabung bersama Kongres Turki Muda yang membentuk Komite Kebangsaan dan Kemajuan (Committee for Union and Progress) atau disingkat C.U.P.
Setelah berakhirnya Perang Dunia I, tepatnya pada tahun 1919 Mustafa Kemal berusaha mewujudkan prinsip-prinsip generasi Turki Muda. Di bawah kepemimpinannya, elit nasional Turki berhasil memobilisir perjuangan rakyat Turki dan melawan pendudukan asing. Rakyat Turki berhasil memukul mundur kekuatan penjajahan dari tanah bangsa Turki, yang secara tidak langsung menjadi kemenangan awal bagi Mustafa Kemal.
Selanjutnya, melalui gerakan politis dan diplomatis di parlemen Majelis Nasional Agung (Grand National Assembly), di mana dalam parlemen ini Mustafa Kemal menjadi ketuanya, ia berhasil mendirikan rezim republik atas sebagian wilayah Anatolia, memberlakukan suatu konstitusi baru bagi rakyat Turki pada tahun 1920, dan mengalahkan republik Armenia, mengalahkan kekuatan Perancis, dan mengusir kekuatan tentara Yunani. Klimaks perjuangan Mustafa Kemal yang mengantarkannya ke kursi presiden republik Turki adalah ketika bangsa Eropa mengakui kemerdekaan bangsa Turki yang ditandai oleh perjanjian Lausanne pada tahun 1923.
B. Pemikiran Politik Mustafa Kemal Attaturk
Pembaruan Turki sesungguhnya telah sejak lama dilakukan oleh generasi Turki, jauh sebelum pembaruan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Pembaruan di bidang militer dan administrasi, sampai kepada pembaruan di bidang ekonomi, sosial dan keagamaan, telah dilakukan oleh generasi Turki pada era Tanzimat yang berlangsung dari tahun 1839 sampai dengan 1876; kemudian pada era Usmani Muda yang berlangsung dari dekade 1860-an sampai dengan dekade 1870-an merupakan reaksi atas program Tanzimat yang mereka anggap tidak peka terhadap tuntutan sosia dan keagamaan; dan pada akhir dekade 1880-an, terbentuklah era baru generasi muda Turki. Generasi baru Turki ini menamakan diri mereka sebagai Kelompok Turki Muda (Ottoman Society for Union and Progress). Kelompok ini secara nyata mempertahankan kontinuitas imperium Usmani, tetapi secara tegas mereka melakukan agitasi terhadap restorasi rezim parlementer dan konstitusional.
Pemikiran pembaruan Turki yang dimiliki oleh Mustafa Kemal Ataturk boleh dianggap merupakan sintesa dari pemikiran ketiga generasi Turki sebelumnya. Bahkan, prinsip pemikiran pembaruan Turki yang ia ketengahkan di dalam frame kebangsaan masyarakat Turki saat ini adalah reduksi pemikiran dari seorang pemikir Turki yang dianggap sebagai Bapak Nasionalisme Turki, yakni Ziya Gokalp.
Dalam catatan kaki Ajid Thohir, di dalam bukunya Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam : Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam, disebutkan bahwa pemikiran pembaruan Turki telah dilakukan oleh tokoh-tokoh, seperti : Mustafa Rasyid Pasha (1800) dan Mehmet Shidiq Ri’at (1807) dari generasi Tanzimat; Ziya Pasha (1825-1876), Namik Kemal (1840-1880) dan Midhat Pasha (1822-1883) dari generasi Usmani Muda; dan, Ahmad Riza (1859-1931) dan Mehmed Murad (1853-1912) dari generasi Turki Muda. Sedangkan, pemikiran yang paling dekat dengan gerakan pembaruan Turki yang dilaksanakan oleh Mustafa Kemal adalah pemikiran Ziya Gokalp, yang secara sistematis mencanangkan program-program pembaruannya dalam berbagai aspek yang ia sebut sebagai The Programe of Turkism, yakni: Linguistic Turkism, Aesthetic Turkism, Ethical Turkism, Legal Turkism, Economic Turkism, Political Turkism, dan Philosopical Turkism.
Adapun prinsip pemikiran pembaharuan Turki yang kemudian menjadi corak ideologinya terdiri dari tiga unsur, yakni : nasionalisme, sekularisme dan westernisme.
Mempersoalkan tiga unsur dalam prinsip pemikiran pembaruan Turki Mustafa Kemal di atas, penulis mengulasnya sebagai berikut :
Pertama, unsur nasionalisme dalam pemikiran Mustafa Kemal diilhami oleh Ziya Gokalp (1875-1924) yang meresmikan kultur rakyat Turki dan menyerukan reformasi Islam untuk menjadikan Islam sebagai ekspresi dari etos Turki. Dalam koridor pemahaman Mustafa Kemal, Islam yang berkembang di Turki adalah Islam yang telah dipribumikan ke dalam budaya Turki. Oleh karenanya, ia berkeyakinan bahwa Islam pun dapat diselaraskan dengan dunia modern. Turut campurnya Islam dalam segala lapangan kehidupan akan membawa kemunduran pada bangsa dan agama. Atas dasar itu, agama harus dipisahkan dari negara. Islam tidak perlu menghalangi adopsi Turki sepenuhnya terhadap peradaban Barat, karena peradaban Barat bukanlah Kristen, sebagaimana Timur bukanlah Islam ;
Kedua, unsur sekularisme. Unsur ini sebenarnya adalah implikasi dari pemahaman westernisme Mustafa Kemal. Pada prinsip ini, salah seorang pengikut setia Mustafa Kemal, Ahmed Agouglu menyatakan bahwa indikasi ketinggian suatu peradaban terletak pada keseluruhannya, bukan secara parsial. Peradaban Barat dapat mengalahkan peradaban-peradaban lain, bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi karena keseluruhan unsur-unsurnya. Peperangan antara Timur dan Barat adalah peperangan antara dua peradaban, yakni peradaban Islam dan peradaban Barat. Di dalam peradaban Islam, agama mencakup segala-galanya mulai dari pakaian dan perkakas rumah sampai ke sekolah dan institusi. Turut campurnya Islam dalam segala lapangan kehidupan membawa kepada mundurnya Islam, dan di Barat sebaliknya sekularisasilah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu. Jika ingin terus mempunyai wujud rakyat Turki harus mengadakan sekularisasi terhadap pandangan keagamaan, hubungan sosial dan hukum. Menurut versi Mustafa kemal, sekularisme bukan saja memisahkan masalah bernegara (legislatif, eksekutif dan yudikatif) dari pengaruh agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai satu bangsa. Sekularisme ini adalah lebih merupakan antagonisme terhadap hampir segala apa yang berlaku di masa Usmani.; dan,
ketiga, unsur wasternisme. Dalam unsur ini, Mustafa Kemal berpendapat bahwa Turki harus berorientasi ke Barat. Ia melihat bahwa dengan meniru Barat negara Turki akan maju. Unsur westernisme dalam prinsip pemikiran Mustafa Kemal mendapat momennya ketika dalam salah satu pidatonya ia mengatakan bahwa kelanjutan hidup suatu masyarakat di dunia peradaban modern menghendaki perobahan dalam diri sendiri. Di zaman yang dalamnya ilmu pengetahuan mampu membawa perobahan secara terus-menerus, maka bangsa yang berpegang teguh pada pemikiran dan tradisi yang tua lagi usang tidak akan dapat mempertahankan wujudnya. Masyarakat Turki harus dirubah menjadi masyarakat yang mempunyai peradaban Barat, dan segala kegiatan reaksioner harus dihancurkan.
Dari ketiga prinsip di atas, kemudian melahirkan ideologi kemalisme, yang terdiri atas: republikanisme, nasionalisme, populisme, sekularisme, negaraisme, dan revolusionisme. Ideologi yang diasosiasikan dengan figur Mustafa Kemal ini kemudian berkembang di Turki dan dikembangkan oleh pengikutnya.
C. Kontroversi Pemikiran Mustafa Kemal Attaturk
Dalam khazanah pemikiran politik islam, nama Mustafa Kemal Attaturk merupakan nama yang melekat erat dengan kata sekularisme. Dalam teori politik yang telah diterapkan oleh Mustafa Kemal di negaranya Turki yang melakukan sekurarisasi dalam Negara dan dekonstruksi khilafah islamiyah dengan menghapuskan sistem tersebut melalui Majelis Nasional Agung. Mustafa Kemal yang menyadari perlunya perubahan dan pembaruan dalam negara itu sangat menginginkan terciptanya sebuah negara sekuler. Kalangan islam garis keras selalu mencemooh dan menghina tindakan Mustafa Kemal yang menurut mereka telah meruntuhkan khilafah Islamiyah.
Dalam buku karangan Abdul Qadim Zallum “Kaifa Hudimat al-Khilafah” yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah” Zallum dalam bukunya menjelaskan beberapa konspirasi mustafa kemal menentang negara dan usaha dalam merebut kekuasaan. Dan sikap arogansi seorang Mustafa Kemal terhadap islam sebagai seorang yang telah menghancurkan khilafah islamiyah.
Meski demikian, keberhasilan mendirikan sebuah negara Turki yang merdeka tidak serta merta menjadikan negara bekas pemerintahan dinasti Islam ini berubah seratus persen menjadi sekuler. Lika-liku gerakan pembaruan (sekularisasi) Turki yang dilakoni oleh Mustafa Kemal terekam dalam tindakan rezim pemerintahannya yang diktator. Sehingga, proses perubahan Turki menjadi sebuah negara yang bercorak modern adalah suatu metamorphosis yang sangat berbeda dari corak tradisi dan nilai-nilai budaya masyarakat Turki yang hampir seluruhnya Islam.
Gerakan pembaruan Turki Mustafa Kemal Ataturk dimulai dengan penghapusan Kesultanan Usmani pada tahun 1923 dan penghapusan khilafah pada tahun 1924. Lembaga wakaf dihapuskan dan dikuasakan kepada kantor urusan agama. Pada tahun 1925 beberapa thariqat sufi dinyatakan sebagai organisasi terlarang dan dihancurkan. Pada tahun 1927 pemakaian tarbus dilarang. Pada tahun 1928 diberlakukan tulisan latin menggantikan tulisan Arab, dan dimulai upaya memurnikan bahasa Turki dari muatan bahasa Arab dan Persi. Pada tahun 1935 seluruh warga Turki diharuskan menggunakan nama kecil sebagaimana berlaku pada pola nama Barat.
Sedangkan menurut Erick J. Zurcher, gerakan pembaruan Turki Mustafa Kemal tergambar dalam ideologi kemalisme yang mencakup prinsip-prinsip: republikanisme, nasionalisme, populisme, etatisme, sekularisme, dan revolusionisme. Dalam lapangan agama, Mustafa Kemal membuat sejumlah kebijakan, seperti pada tahun 1928, menggunakan bahasa Turki dalam sholatnya. Sedangkan beberapa kebijakan yang dibuat dalam undang-undang pada era rezim Mustafa Kemal adalah :
1. Undang-undang tentang unifikasi dan sekularisasi pendidikan, tanggal 3 Maret 1924.
2. Undang-undang tentang pemberhentian petugas jemaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman, tanggal 30 November 1925;
3. Peraturan sipil tentang perkawinan, tanggal 17 Februari 1926;
4. Undang-undang penggunaan huruf latin untuk abjad Turki dan penghapusan tulisan Arab, tanggal 1 November 1928; dan
5. Undang-undang tentang larangan menggunakan pakaian asli, tanggal 1934.
Gerakan sekularisasi Turki oleh rezim Mustafa Kemal berakhir seiring dengan wafatnya Mustafa Kemal pada tahun 1938. Sungguhpun demikian, sepeninggal Mustafa Kemal Ataturk, posisi presiden Turki digantikan oleh Ismet Inonu, seorang kolega yang sangat setia kepadanya. Dengan demikian, proses sekukarisasi terus berjalan di Turki. Hanya saja, pergantian tampuk pimpinan dalam rezim pemerintahan ini memberikan peluang bagi konsepsi sistem politik baru bagi negara Turki. Konsepsi politik baru ini terjadi setelah Perang Dunia II, khususnya pada tahun 1946, yang atas campur tangan pemerintah Amerika Serikat ketika itu yang berusaha mengurangi pengaruh sistem paternalistik dan lebih cenderung menginginkan sistem multi partai. Kondisi ini membuka jalan bagi terbentuknya partai Demokrat (Democrat Party) di Republik Turki.
Bias sekular teori modernisasi memiliki gema khusus dalam analisis terhadap dunia muslim. Pada awal tahun 1960-an, teori modernisasi memandang dunia muslim sedang menghadapi pilihan yang tak nyaman: antara “totalitarian neo-Islamis” yang bertujuan “membangkitkan masa lalu”, atau “Islam reformis” yang bertujuan membuka “pintu gerbang air dan terseret oleh banjir besar”. Pandangan yang sangat negatif tentang kemungkinan evaluasi dalam masyarakat muslim mengkhianati kemauan yang sungguh-sungguh dari reformis sekular militan seperti Mustafa Kemal Attaturk.
Penutup
Kesimpulan
Melihat secara objektif dalam kaca mata sejarah adalah hal yang harus dilakukan dalam ruang kajian akademis ini. Jangan hanya melalui satu kaca mata yang tendensius mengarah ke arah yang pro maupun yang kontra. Penulis mencoba bersikap netral dalam pembahasan yang begitu dalam dan penting bagi kemajuan yang telah dirintis oleh Mustafa Kemal Attaturk. Sekian banyak pujian dan tidak sedikit pula hinaan atas diri sang founding father Negara Turki tersebut.
Ide-ide politik yang begitu amat penting yang harus dikaji dan digali agar ide-ide brilliantnya tidak mati dimakan usia. Karena pemikirannya banyak mengilhami dunia sampai sekarang. Bahkan seorang soekarno begitu amat mengidolakan sang bapak Turki itu. Konsep yang begitu menarik dalam khazanah ilmu politik, seperangkat ide-ide dan prinsip-prinsip dasar kemalisme yang menjadi misi kemalis di Turki yaitu: Republikanisme, Sekularisme, Nasionalisme, Populalisme, Negaraisme (statism), dan Revolusionisme.
Mubarak, “Mustafa Kemal Attaturk (Tokoh Pendiri Republik Turki)” artikel ini diakses pada 3 oktober 2009 dari http://hajimubarak.blogspot.com
Abdul Q. Zallum, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah. Penerjemah Abu Faiz (Jawa Timur: Al-Izzah, 2001)
Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Politik Muslim Wacana Kekuasaan dan Hegemoni dlm Masyarakat Muslim. Penerjemah Endi Haryono (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya,1998). H. 26
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kehancuran Imperium Turki Usmani pada tahun 1918 setelah kekalahan perang yang dideritanya bersama Jerman dan Austria adalah akhir dari sejarah masyarakat Islam imperial. Klimaks dari perjalanan sejarah imperium Islam ini kemudian menjadi awal bagi perkembangan baru masyarakat Islam abad ke-19 di Turki. Tumbuhnya semangat nasionalisme dan kebangsaan masyarakat Turki serta upaya mereka untuk bangkit dari keterpurukan situasi negara yang telah hancur akhirnya menjadi tonggak berdirinya negara Republik Turki.
Mustafa Kemal Pasha, yang kemudian bergelar Ataturk (Bapak Bangsa Turki), adalah tokoh pendiri negara sekuler Republik Turki. Di bawah rezim pemerintahannya Republik Turki pernah dicap sebagai negara sekuler anti Islam. Bahkan, dengan sikap diktatorial rezim pemerintahannya, ia berhasil mengomando pengikutnya di dalam parlemen pemerintahan Turki untuk menghapus lembaga kesultanan dan kekhalifahan Islam. Selain tindakan radikal yang ia lakukan tadi, dengan serentetan program pembaruan (sekularisasi) Turki yang ia lakukan sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1938, Mustafa Kemal juga dianggap telah mencerabut akar dogmatisme Islam dari masyarakat Turki, dan menjauhkan nilai-nilai Islam yang telah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Turki tersebut dengan dalih modernitas dan pembaruan.
B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan pembahasan, penulis membuat rumusan masalah dalam beberapa bagian. Pertama, berhubungan matakuliah ini mengenai tokoh, jadi penulis akan menguraikan biografi sang tokoh Mustafa Kemal Attaturk. Kedua, mengenai pemikiran politik sang inspirator dunia islam Mustafa Kemal Attaturk. Ketiga, kontroversi terhadap pemikiran Mustafa Kemal Attaturk.
Makalah ini mencoba mengurai secara lugas sosok tokoh bernama Mustafa Kemal Ataturk, baik dari segi pemikirannya dalam pembaruan Turki setelah keruntuhan Imperium Turki Usmani, maupun mengenai gerakan politiknya yang akhirnya menghantarkannya menjadi Presiden Republik Turki sepanjang hidup.
Pembahasan
A. Biografi Mustafa Kemal Attaturk
Mustafa Kemal Ataturk lahir di Salonika pada tahun 1881. Orang tuanya bernama Ali Riza seorang pegawai biasa di salah satu kantor pemerintah di kota itu, sedangkan ibunya bernama Zubayde, seorang wanita yang amat dalam perasaan keagamaannya. Ali Riza meninggal dunia saat Mustafa Kemal berusia tujuh tahun. Ia kemudian diasuh oleh ibunya.
Riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai sejak tahun 1893 ketika ia memasuki sekolah Rushdiye (sekolah menengah militer Turki). Pada tahun 1895 ia masuk ke akademi militer di kota Monastir dan pada 13 Maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul sebagai kadet pasukan infanteri. Tahun 1902 ia ditunjuk menjadi salah satu staf pengajar dan pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat kapten.
Kehidupan Mustafa Kemal sejak 1905 sampai dengan 1918 diwarnai dengan perjuangan untuk mewujudkan identitas kebangsaan Turki. Sebagai pejabat militer di dalam imperium Turki Usmani saat itu, ia mendirikan sebuah organisasi yang bernama Masyarakat Tanah Air (Fatherland Society). Ia juga bergabung bersama Kongres Turki Muda yang membentuk Komite Kebangsaan dan Kemajuan (Committee for Union and Progress) atau disingkat C.U.P.
Setelah berakhirnya Perang Dunia I, tepatnya pada tahun 1919 Mustafa Kemal berusaha mewujudkan prinsip-prinsip generasi Turki Muda. Di bawah kepemimpinannya, elit nasional Turki berhasil memobilisir perjuangan rakyat Turki dan melawan pendudukan asing. Rakyat Turki berhasil memukul mundur kekuatan penjajahan dari tanah bangsa Turki, yang secara tidak langsung menjadi kemenangan awal bagi Mustafa Kemal.
Selanjutnya, melalui gerakan politis dan diplomatis di parlemen Majelis Nasional Agung (Grand National Assembly), di mana dalam parlemen ini Mustafa Kemal menjadi ketuanya, ia berhasil mendirikan rezim republik atas sebagian wilayah Anatolia, memberlakukan suatu konstitusi baru bagi rakyat Turki pada tahun 1920, dan mengalahkan republik Armenia, mengalahkan kekuatan Perancis, dan mengusir kekuatan tentara Yunani. Klimaks perjuangan Mustafa Kemal yang mengantarkannya ke kursi presiden republik Turki adalah ketika bangsa Eropa mengakui kemerdekaan bangsa Turki yang ditandai oleh perjanjian Lausanne pada tahun 1923.
B. Pemikiran Politik Mustafa Kemal Attaturk
Pembaruan Turki sesungguhnya telah sejak lama dilakukan oleh generasi Turki, jauh sebelum pembaruan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Pembaruan di bidang militer dan administrasi, sampai kepada pembaruan di bidang ekonomi, sosial dan keagamaan, telah dilakukan oleh generasi Turki pada era Tanzimat yang berlangsung dari tahun 1839 sampai dengan 1876; kemudian pada era Usmani Muda yang berlangsung dari dekade 1860-an sampai dengan dekade 1870-an merupakan reaksi atas program Tanzimat yang mereka anggap tidak peka terhadap tuntutan sosia dan keagamaan; dan pada akhir dekade 1880-an, terbentuklah era baru generasi muda Turki. Generasi baru Turki ini menamakan diri mereka sebagai Kelompok Turki Muda (Ottoman Society for Union and Progress). Kelompok ini secara nyata mempertahankan kontinuitas imperium Usmani, tetapi secara tegas mereka melakukan agitasi terhadap restorasi rezim parlementer dan konstitusional.
Pemikiran pembaruan Turki yang dimiliki oleh Mustafa Kemal Ataturk boleh dianggap merupakan sintesa dari pemikiran ketiga generasi Turki sebelumnya. Bahkan, prinsip pemikiran pembaruan Turki yang ia ketengahkan di dalam frame kebangsaan masyarakat Turki saat ini adalah reduksi pemikiran dari seorang pemikir Turki yang dianggap sebagai Bapak Nasionalisme Turki, yakni Ziya Gokalp.
Dalam catatan kaki Ajid Thohir, di dalam bukunya Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam : Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam, disebutkan bahwa pemikiran pembaruan Turki telah dilakukan oleh tokoh-tokoh, seperti : Mustafa Rasyid Pasha (1800) dan Mehmet Shidiq Ri’at (1807) dari generasi Tanzimat; Ziya Pasha (1825-1876), Namik Kemal (1840-1880) dan Midhat Pasha (1822-1883) dari generasi Usmani Muda; dan, Ahmad Riza (1859-1931) dan Mehmed Murad (1853-1912) dari generasi Turki Muda. Sedangkan, pemikiran yang paling dekat dengan gerakan pembaruan Turki yang dilaksanakan oleh Mustafa Kemal adalah pemikiran Ziya Gokalp, yang secara sistematis mencanangkan program-program pembaruannya dalam berbagai aspek yang ia sebut sebagai The Programe of Turkism, yakni: Linguistic Turkism, Aesthetic Turkism, Ethical Turkism, Legal Turkism, Economic Turkism, Political Turkism, dan Philosopical Turkism.
Adapun prinsip pemikiran pembaharuan Turki yang kemudian menjadi corak ideologinya terdiri dari tiga unsur, yakni : nasionalisme, sekularisme dan westernisme.
Mempersoalkan tiga unsur dalam prinsip pemikiran pembaruan Turki Mustafa Kemal di atas, penulis mengulasnya sebagai berikut :
Pertama, unsur nasionalisme dalam pemikiran Mustafa Kemal diilhami oleh Ziya Gokalp (1875-1924) yang meresmikan kultur rakyat Turki dan menyerukan reformasi Islam untuk menjadikan Islam sebagai ekspresi dari etos Turki. Dalam koridor pemahaman Mustafa Kemal, Islam yang berkembang di Turki adalah Islam yang telah dipribumikan ke dalam budaya Turki. Oleh karenanya, ia berkeyakinan bahwa Islam pun dapat diselaraskan dengan dunia modern. Turut campurnya Islam dalam segala lapangan kehidupan akan membawa kemunduran pada bangsa dan agama. Atas dasar itu, agama harus dipisahkan dari negara. Islam tidak perlu menghalangi adopsi Turki sepenuhnya terhadap peradaban Barat, karena peradaban Barat bukanlah Kristen, sebagaimana Timur bukanlah Islam ;
Kedua, unsur sekularisme. Unsur ini sebenarnya adalah implikasi dari pemahaman westernisme Mustafa Kemal. Pada prinsip ini, salah seorang pengikut setia Mustafa Kemal, Ahmed Agouglu menyatakan bahwa indikasi ketinggian suatu peradaban terletak pada keseluruhannya, bukan secara parsial. Peradaban Barat dapat mengalahkan peradaban-peradaban lain, bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi karena keseluruhan unsur-unsurnya. Peperangan antara Timur dan Barat adalah peperangan antara dua peradaban, yakni peradaban Islam dan peradaban Barat. Di dalam peradaban Islam, agama mencakup segala-galanya mulai dari pakaian dan perkakas rumah sampai ke sekolah dan institusi. Turut campurnya Islam dalam segala lapangan kehidupan membawa kepada mundurnya Islam, dan di Barat sebaliknya sekularisasilah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu. Jika ingin terus mempunyai wujud rakyat Turki harus mengadakan sekularisasi terhadap pandangan keagamaan, hubungan sosial dan hukum. Menurut versi Mustafa kemal, sekularisme bukan saja memisahkan masalah bernegara (legislatif, eksekutif dan yudikatif) dari pengaruh agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai satu bangsa. Sekularisme ini adalah lebih merupakan antagonisme terhadap hampir segala apa yang berlaku di masa Usmani.; dan,
ketiga, unsur wasternisme. Dalam unsur ini, Mustafa Kemal berpendapat bahwa Turki harus berorientasi ke Barat. Ia melihat bahwa dengan meniru Barat negara Turki akan maju. Unsur westernisme dalam prinsip pemikiran Mustafa Kemal mendapat momennya ketika dalam salah satu pidatonya ia mengatakan bahwa kelanjutan hidup suatu masyarakat di dunia peradaban modern menghendaki perobahan dalam diri sendiri. Di zaman yang dalamnya ilmu pengetahuan mampu membawa perobahan secara terus-menerus, maka bangsa yang berpegang teguh pada pemikiran dan tradisi yang tua lagi usang tidak akan dapat mempertahankan wujudnya. Masyarakat Turki harus dirubah menjadi masyarakat yang mempunyai peradaban Barat, dan segala kegiatan reaksioner harus dihancurkan.
Dari ketiga prinsip di atas, kemudian melahirkan ideologi kemalisme, yang terdiri atas: republikanisme, nasionalisme, populisme, sekularisme, negaraisme, dan revolusionisme. Ideologi yang diasosiasikan dengan figur Mustafa Kemal ini kemudian berkembang di Turki dan dikembangkan oleh pengikutnya.
C. Kontroversi Pemikiran Mustafa Kemal Attaturk
Dalam khazanah pemikiran politik islam, nama Mustafa Kemal Attaturk merupakan nama yang melekat erat dengan kata sekularisme. Dalam teori politik yang telah diterapkan oleh Mustafa Kemal di negaranya Turki yang melakukan sekurarisasi dalam Negara dan dekonstruksi khilafah islamiyah dengan menghapuskan sistem tersebut melalui Majelis Nasional Agung. Mustafa Kemal yang menyadari perlunya perubahan dan pembaruan dalam negara itu sangat menginginkan terciptanya sebuah negara sekuler. Kalangan islam garis keras selalu mencemooh dan menghina tindakan Mustafa Kemal yang menurut mereka telah meruntuhkan khilafah Islamiyah.
Dalam buku karangan Abdul Qadim Zallum “Kaifa Hudimat al-Khilafah” yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah” Zallum dalam bukunya menjelaskan beberapa konspirasi mustafa kemal menentang negara dan usaha dalam merebut kekuasaan. Dan sikap arogansi seorang Mustafa Kemal terhadap islam sebagai seorang yang telah menghancurkan khilafah islamiyah.
Meski demikian, keberhasilan mendirikan sebuah negara Turki yang merdeka tidak serta merta menjadikan negara bekas pemerintahan dinasti Islam ini berubah seratus persen menjadi sekuler. Lika-liku gerakan pembaruan (sekularisasi) Turki yang dilakoni oleh Mustafa Kemal terekam dalam tindakan rezim pemerintahannya yang diktator. Sehingga, proses perubahan Turki menjadi sebuah negara yang bercorak modern adalah suatu metamorphosis yang sangat berbeda dari corak tradisi dan nilai-nilai budaya masyarakat Turki yang hampir seluruhnya Islam.
Gerakan pembaruan Turki Mustafa Kemal Ataturk dimulai dengan penghapusan Kesultanan Usmani pada tahun 1923 dan penghapusan khilafah pada tahun 1924. Lembaga wakaf dihapuskan dan dikuasakan kepada kantor urusan agama. Pada tahun 1925 beberapa thariqat sufi dinyatakan sebagai organisasi terlarang dan dihancurkan. Pada tahun 1927 pemakaian tarbus dilarang. Pada tahun 1928 diberlakukan tulisan latin menggantikan tulisan Arab, dan dimulai upaya memurnikan bahasa Turki dari muatan bahasa Arab dan Persi. Pada tahun 1935 seluruh warga Turki diharuskan menggunakan nama kecil sebagaimana berlaku pada pola nama Barat.
Sedangkan menurut Erick J. Zurcher, gerakan pembaruan Turki Mustafa Kemal tergambar dalam ideologi kemalisme yang mencakup prinsip-prinsip: republikanisme, nasionalisme, populisme, etatisme, sekularisme, dan revolusionisme. Dalam lapangan agama, Mustafa Kemal membuat sejumlah kebijakan, seperti pada tahun 1928, menggunakan bahasa Turki dalam sholatnya. Sedangkan beberapa kebijakan yang dibuat dalam undang-undang pada era rezim Mustafa Kemal adalah :
1. Undang-undang tentang unifikasi dan sekularisasi pendidikan, tanggal 3 Maret 1924.
2. Undang-undang tentang pemberhentian petugas jemaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman, tanggal 30 November 1925;
3. Peraturan sipil tentang perkawinan, tanggal 17 Februari 1926;
4. Undang-undang penggunaan huruf latin untuk abjad Turki dan penghapusan tulisan Arab, tanggal 1 November 1928; dan
5. Undang-undang tentang larangan menggunakan pakaian asli, tanggal 1934.
Gerakan sekularisasi Turki oleh rezim Mustafa Kemal berakhir seiring dengan wafatnya Mustafa Kemal pada tahun 1938. Sungguhpun demikian, sepeninggal Mustafa Kemal Ataturk, posisi presiden Turki digantikan oleh Ismet Inonu, seorang kolega yang sangat setia kepadanya. Dengan demikian, proses sekukarisasi terus berjalan di Turki. Hanya saja, pergantian tampuk pimpinan dalam rezim pemerintahan ini memberikan peluang bagi konsepsi sistem politik baru bagi negara Turki. Konsepsi politik baru ini terjadi setelah Perang Dunia II, khususnya pada tahun 1946, yang atas campur tangan pemerintah Amerika Serikat ketika itu yang berusaha mengurangi pengaruh sistem paternalistik dan lebih cenderung menginginkan sistem multi partai. Kondisi ini membuka jalan bagi terbentuknya partai Demokrat (Democrat Party) di Republik Turki.
Bias sekular teori modernisasi memiliki gema khusus dalam analisis terhadap dunia muslim. Pada awal tahun 1960-an, teori modernisasi memandang dunia muslim sedang menghadapi pilihan yang tak nyaman: antara “totalitarian neo-Islamis” yang bertujuan “membangkitkan masa lalu”, atau “Islam reformis” yang bertujuan membuka “pintu gerbang air dan terseret oleh banjir besar”. Pandangan yang sangat negatif tentang kemungkinan evaluasi dalam masyarakat muslim mengkhianati kemauan yang sungguh-sungguh dari reformis sekular militan seperti Mustafa Kemal Attaturk.
Penutup
Kesimpulan
Melihat secara objektif dalam kaca mata sejarah adalah hal yang harus dilakukan dalam ruang kajian akademis ini. Jangan hanya melalui satu kaca mata yang tendensius mengarah ke arah yang pro maupun yang kontra. Penulis mencoba bersikap netral dalam pembahasan yang begitu dalam dan penting bagi kemajuan yang telah dirintis oleh Mustafa Kemal Attaturk. Sekian banyak pujian dan tidak sedikit pula hinaan atas diri sang founding father Negara Turki tersebut.
Ide-ide politik yang begitu amat penting yang harus dikaji dan digali agar ide-ide brilliantnya tidak mati dimakan usia. Karena pemikirannya banyak mengilhami dunia sampai sekarang. Bahkan seorang soekarno begitu amat mengidolakan sang bapak Turki itu. Konsep yang begitu menarik dalam khazanah ilmu politik, seperangkat ide-ide dan prinsip-prinsip dasar kemalisme yang menjadi misi kemalis di Turki yaitu: Republikanisme, Sekularisme, Nasionalisme, Populalisme, Negaraisme (statism), dan Revolusionisme.
Mubarak, “Mustafa Kemal Attaturk (Tokoh Pendiri Republik Turki)” artikel ini diakses pada 3 oktober 2009 dari http://hajimubarak.blogspot.com
Abdul Q. Zallum, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah. Penerjemah Abu Faiz (Jawa Timur: Al-Izzah, 2001)
Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Politik Muslim Wacana Kekuasaan dan Hegemoni dlm Masyarakat Muslim. Penerjemah Endi Haryono (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya,1998). H. 26
Langganan:
Postingan (Atom)